Ini lho Alasan Mobil Listrik Masih Mahal di RI

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
21 September 2021 09:50
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas untuk pertama kalinya. Hari ini, Selasa (29/12) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi menyerahkan tiga unit mobil listrik kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil. Ketiga mobil tersebut adalah 2 unit IONIQ Electric dan 1 unit KONA Electric. (Dok: Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan mobil listrik di RI masih terkendala harga yang mahal. Mahalnya mobil listrik ini disebabkan karena baterainya pun masih impor. Namun, jika baterai kendaraan listrik ini sudah diproduksi di dalam negeri, maka diperkirakan harga mobil listrik akan menjadi lebih murah.

Mobil listrik terus didorong oleh pemerintah untuk menekan emisi karbon dan juga agar RI bisa terlepas dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ida Nuryatin Finahari, Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, mahalnya mobil listrik membuat yang bisa mengakses kendaraan ini hanya kalangan menengah ke atas saja.


"Dari situ memang kita evaluasi sebagian besar tergantung dari ketersediaan baterai yang masih impor, dan inilah yang sebabkan memang harga mobil listrik masih tinggi," ungkapnya dalam acara Energy Corner "Special Road to Energy Day" CNBC Indonesia, Senin (20/09/2021).

Pihaknya pun berharap ke depannya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun pihak swasta bisa mengembangkan industri baterai di dalam negeri. Jika ekosistem industri baterai sudah ada, maka menurutnya harga kendaraan listrik bisa ditekan.

"Ini (industri baterai di dalam negeri) pengaruhi dari sisi harga kendaraan listrik ini, baik roda empat dan roda dua," lanjutnya.

Ida menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sudah memberikan berbagai insentif untuk pengembangan mobil listrik. Masing-masing kementerian dan lembaga memiliki tugas, dan yang paling penting menurutnya yaitu koordinasi lintas kementerian terus dilakukan.

"Misalnya terkait dengan charging station mobil, ini kita juga mengevaluasi seperti apa sih yang memang pas untuk mobil-mobil yang tersedia, sehingga antara charging station dan mobil listrik bisa sesuai," ungkapnya.

Dia mengatakan, pemerintah juga melakukan evaluasi terkait ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan standar baterai yang digunakan di kendaraan listrik, baik motor maupun mobil listrik.

"Termasuk standar baterai, misalnya namanya kendaraan roda dua ada swap baterai, ini kita harap nantinya di mana-mana orang bisa ganti tukar baterai kayak tabung LPG, di mana-mana ada yang jualan dan gampang," ucapnya.

Pihaknya pun menargetkan stasiun penukaran baterai akan semakin masif. Jika baterai bisa diproduksi di Indonesia, maka menurutnya harganya pun akan bisa ditekan.

"Ini sedang evaluasi berapa sih ukuran dimensi dari baterai yang bisa di-swap dan diproduksi di Indonesia agar jualan bisa kompetitif dan terjangkau," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, sempat mengatakan pasar potensial untuk otomotif roda empat di RI masih berkutat di harga Rp 300 juta ke bawah. Kendaraan seperti Avanza, Xenia, Agya, Ayla masih memiliki porsi terbesar di Indonesia.

Sementara harga mobil listrik termurah di Indonesia seperti yang dijual Hyundai kini berada di kisaran Rp 600 juta per unit.

Oleh karena itu, supaya industri kendaraan mobil listrik berkembang di Indonesia, maka menurutnya produsen harus menekan harga hingga Rp 300 juta ke bawah. Sejalan dengan daya beli masyarakat kebanyakan yang mengarah di segmen tersebut.

Seperti diketahui, pada Rabu (15/09/2021), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan groundbreaking pabrik industri baterai kendaraan listrik yang dikelola PT HKML Battery Indonesia di Karawang, Jawa Barat. Ini menandai dimulainya pembangunan pabrik baterai EV senilai US$ 1,1 miliar ini.

Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pabrik baterai EV yang dibangun di Karawang, Jawa Barat, ditargetkan telah tuntas proses konstruksi atau pembangunannya pada September 2022. Lalu, pada 2023 pabrik baterai EV ini sudah bisa beroperasi secara komersial.

Adapun kapasitas produksi sel baterai EV ini menurutnya mencapai 10 Giga Watt hour(GWh) per tahun.

"Pabrik baterai 10 GW ini akan selesai konstruksi September 2022 dan produksi di 2023. Jadi, insha Allah sebelum masa kabinet periode kedua selesai, ini sudah clear pembangunannya," tuturnya dalam konferensi pers, Jumat (17/09/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading