Takut Pandemi Baru di Masa Depan, Negara Kaya Sudah Siap-Siap

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
13 September 2021 21:30
A general view of AstraZeneca offices and the corporate logo in Cambridge, England, Saturday, July 18, 2020. An Oxford University vaccine progress paper is to be published the the Lancet on Monday. Human trials of a potential coronavirus vaccine being developed by scientists are reported to have shown promising results. Pharmaceutical company AstraZeneca reached an agreement with Europe's Inclusive Vaccines Alliance (IVA) to supply up to 400 million doses of the University of Oxford's COVID-19 vaccine – at no profit – with deliveries starting by the end of 2020. (AP Photo/Alastair Grant)

Jakarta, CNBC Indonesia - Muncul sebuah lembaga ilmiah baru yang bertujuan untuk mencegah dan penanganan pandemi yang responsif di masa depan. Ialah Institut Pandemi (Pandemic Institute) di Liverpool, Inggris.

Laporan The Guardian mengatakan institut ini hadir untuk mempercepat pengembangan vaksin. Nantinya juga akan mencakup fasilitas di mana para sukarelawan akan menguji vaksin dan perawatan baru dalam kondisi yang terkendali.

Profesor Daniela Ferreira, kepala ilmu klinis di Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM), mengatakan jika kandidat vaksin dapat diuji selama gelombang pertama infeksi, suntikan akan siap beberapa bulan sebelumnya.


"Di sini, di Liverpool, saya memimpin salah satu situs untuk fase 3 studi vaksin Oxford," kata Ferreira.

"Kami dapat mengatur dengan sangat cepat. Ketika pemerintah menerapkan penguncian nasional, jumlah kasus anjlok. Kami berharap mendapatkan hasil studi vaksin dalam tiga bulan, tetapi butuh waktu lebih lama karena transmisi komunitas lebih sedikit."

LSTM adalah salah satu dari tujuh universitas, rumah sakit, dan otoritas lokal di kota di belakang institut yang diluncurkan pada Senin (13/9/2021) dengan dana 10 juta poundsterling dari grup medis Innova.

Institut Pandemi akan memiliki fasilitas penahanan tinggi di luar rumah sakit, yang akan mempercepat prosesnya. Jika fasilitas Institut Pandemi telah tersedia pada Januari 2020, prototipe vaksin dan obat antivirus paling awal dapat diuji efektivitasnya selama gelombang pertama.

Jika vaksin telah tersedia untuk pengujian selama gelombang pertama, Ferreira yakin mereka bisa siap setidaknya tiga bulan lebih awal atau pada awal gelombang kedua pada Oktober nanti.

"Jika kami menggunakan model terkontrol, Anda dapat memiliki ide yang jauh lebih cepat apakah vaksin kemungkinan akan bekerja atau tidak," kata Ferreira.

Karena virus baru biasanya merupakan penyakit zoonosis yang berpindah dari hewan ke manusia, salah satu fokus utama dari institut baru ini akan membangun database penyakit yang menyerang hewan dan mencoba mencari tahu mana yang paling mungkin melintasi batasan spesies.

Beberapa badan lain yang mirip dengan Institut Pandemi sedang dibentuk di seluruh dunia. Bulan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuka Pusat Kecerdasan Pandemi dan Epidemi di Berlin.

Sementara pemerintah Prancis luncurkan Prezode, inisiatif internasional yang berfokus pada penyakit zoonosis, dan Yayasan Rockefeller menciptakan Institut Pencegahan Pandemi di Amerika Serikat (AS).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fenomena Gedung Perkantoran di DKI Diobral, Sampai Kapan?


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading