Ada yang Lebih Ngeri dari Covid, Ilmuwan-Tokoh Agama Warning!

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
09 September 2021 13:25
Students attend a climate change protest in Marovo Island, Solomon Islands, September 20, 2019 in this picture obtained from social media. Mandatory credit 350 PACIFIC/via REUTERS. ATTENTION EDITORS -  THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES.     TPX IMAGES OF THE DAY

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib umat manusia dan Bumi makin menjadi perhatian belakangan ini, bukan soal pandemi Covid-19 tapi ada yang diyakini lebih mengerikan yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim diyakini menjadi ancaman yang lebih mengerikan daripada pandemi, saat ini sudah mulai dirasakan di seluruh dunia dari banjir, kebakaran hutan, kekeringan, badai besar dan lainnya yang mengancam umat manusia.

Kekhawatiran terhadap perubahan iklim bukan lah masalah kemarin sore tapi sudah lama jadi perhatian banyak pihak. Namun, belakangan, kalangan ilmuwan dari penjuru dunia bahkan toko agama mulai turun tangan memperingati ancaman serius dari perubahan iklim yang tak main-main.

Beberapa tokoh umat Kristiani dunia menyerukan kepada masyarakat dunia untuk bersatu dan bersiap menghadapi ancaman perubahan iklim yang diyakini lebih mengerikan dari pandemi Covid-19. Seruan itu disampaikan melalui sebuah deklarasi bersama.


Seperti dikutip dari Guardians, Kamis (9/9) deklarasi yang dimotori pemimpin gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, pemimpin spiritual gereja Ortodoks, Patriark Ekumenis Bartholomew, dan uskup agung Anglikan, Justin Welby itu menyebutkan bahwa masyarakat dunia harus mulai mendengarkan tangisan Bumi dan orang-orang miskin.

"Ini adalah momen kritis. Masa depan anak-anak kita dan masa depan rumah kita bersama bergantung padanya," ujar deklarasi bersama ini.

Para tokoh agama ini meminta agar seluruh masyarakat mulai peduli dengan kondisi dan situasi dunia saat ini dengan lebih bertanggung jawab atas kegiatan yang mereka lakukan. Maka itu, ketiga tokoh Kristiani ini memohon agar masyarakat mau berkorban demi masa depan dunia.

"Dunia sudah menyaksikan konsekuensi dari penolakan kita untuk melindungi dan melestarikan. Sekarang, pada saat ini, kita memiliki kesempatan untuk bertobat, berbalik dalam tekad, menuju ke arah yang berlawanan. Kita harus mengejar kemurahan hati dan keadilan dalam cara kita hidup, bekerja dan menggunakan uang, bukan keuntungan egois."

Ribuan Ilmuwan Mulai Resah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading