Efek Pandemi di Bali

Ada Fenomena Orang Jadi Pedagang Dadakan Saat Pandemi

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
27 August 2021 14:43
A woman wears a face mask to help stop the spread of the coronavirus as she bicycles down an empty road in Bali, Indonesia, Tuesday, April 14, 2020. Forced apart by the coronavirus pandemic, Southeast Asian leaders linked up by video Tuesday to plot a strategy to overcome a crisis that has threatened their economies and bound millions of people in their homes under lockdowns. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak pelaku pariwisata di BaliĀ terhantam pandemiĀ keras, dan kini banting setir atau beralih profesi ke sektor lain seperti perdagangan dan pertanian. Hal ini terjadi bukan hanya pada staf bisnis hotel dari level bawah sampai manager hingga general manager hotel.

Salah satu sektor yang kini paling banyak digandrungi adalah pertanian, jumlahnya sekitar 50% dari pelaku pariwisata yang alih profesi. Banyak bos perusahaan yang kini menjadi petani, namun itu bagi mereka yang memiliki lahan sendiri. Sementara yang tidak punya lahan, ada yang banting setir menjadi pedagang kaki lima.

"Akhirnya ke sektor non formal seperti pedagang eceran masker. Banyak teman-teman kita yang buka warung kecil-kecilan, jualan online, banyak sekali. Temporary untuk bisa bertahan di situasi ini," kata Pelaku pariwisata Bali I Nyoman Astama kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/8/21).


Situasi ini memang sulit, namun mau tidak mau harus dilakukan. Kemungkinan besar ini bakal terus terjadi selama pariwisata di Bali belum juga bangkit. Namun, efek positifnya adalah munculnya kreativitas ekonomi.

"Ada yang buka restoran, jualan bagi yang punya rumah di pinggir jalan. Kalau yang pindah ke pertanian harus punya lahan, misalnya punya di kampung, dia bisa. Tapi kalau nggak, nggak bisa lakukan juga, akhirnya ada yang jualan sembako. Jadi kreativitas ekonomi muncul," ujar Astama.

Selain berusaha, Ia mengungkapkan bahwa banyak organisasi atau instansi yang mulai bergerak dalam pengumpulan dana, mulai dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga konsulat asing. Tujuannya agar bisa diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, atau umumnya pelaku pariwisata.

"Bagi sembako, nasi bungkus, tiap hari ada aja dilakukan rutin. Dari LSM atau Konsulat asing misalnya Konsul kehormatan Ukraina serahkan sembako 1,5 ton beras. Jadi menggalang donatur dari warga Ukraina di Bali, kebetulan ada yang jadi pionir, kita berikan ke warga yang membutuhkan, seperti itu dilakukan di Bali untuk bisa bertahan," sebut Astama yang juga Konsul Kehormatan Ukraina untuk Bali.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga-Harga Sembako Makin Terbang, Pedagang Beri Penjelasan!


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading