Internasional

Jreng! China Dilaporkan Ganggu Minyak RI-Rusia di Natuna

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
News
Senin, 23/08/2021 11:07 WIB

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kapal China dilaporkan mengganggu pengeboran Harbour Energy yang sedang berlangsung di blok Tuna di lepas pantai Laut Natuna Indonesia. Ini dikabarkan sebuah web bernama Energyvoice.com pada Jumat (20/8/2021) lalu.

Dikatakan insiden tersebut menganggu kepentingan energi Rusia di Laut China Selatan (LCS). Pasalnya pengeboran itu didukung Zarubezhneft yang didukung negara Rusia.



"Sebuah kapal China telah ikut campur dengan kampanye pengeboran Harbour Energy yang sedang berlangsung di blok Tuna di Laut Natuna lepas pantai Indonesia," tulis laporan itu, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, Senin (23/8/2021).

"Secara signifikan, pengeboran ini didanai oleh Zarubezhneft yang didukung negara Rusia, dan insiden tersebut menggarisbawahi fakta bahwa kepentingan energi Moskow di Laut China Selatan semakin terancam oleh China."

Pengeboran sumur eksplorasi Singa Laut-2 di blok Tuna sejak Juli lalu dilakukan oleh Premier Oil Tuna B.V. Tahun 2020 lalu, perusahaan ini telah mendapatkan partner untuk mengelola Blok Tuna di perairan Natuna tersebut, Zarubezhneft.

Zarubezhneft adalah perusahaan migas milik pemerintah Rusia yang dilaporkan mengakuisisi 50% hak partisipasinya melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd. Akuisisi ini membuat Premier Oil berganti menjadi Harbour Energy.

Blok Tuna merupakan wilayah Kerja migas di lepas pantai Indonesia. Blok ini terletak di Laut Natuna di dekat perbatasan Vietnam, dengan kedalaman air sekitar 110 meter.

Blok ini sendiri memiliki peran strategis bagi geopolitik Indonesia. Karena terletak di perbatasan dengan Vietnam dan dekat dengan LCS yang kerap menjadi sengketa banyak negara sekitarnya.

LCS sendiri merupakan wilayah sengketa antara China dengan sejumlah negara Asia Tenggara. China mengklaim wilayah ini hingga hampir 90%, yang membuatnya tegang dengan Malaysia, Filipina, Vietnam, termasuk RI.

Hingga berita ini diturunkan CNBC Indonesia masih menghubungi sejumlah pihak untuk mendapatkan konfirmasi.


(sef/sef)