Dahulu RI 'Raja' Rempah-Rempah, Kini Impor Lada dan Cengkeh

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
13 August 2021 20:18
Aktivitas penerimaan barang yang akan dikirim ke kota-kota di Pulau Jawa dengan menggunakan jasa kereta barang yang dikelola oleh Rail Express di Stasiun Jakarta Gudang, Kampung Bandan, Jakarta, Rabu (29/7/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)


Setelah sempat mengalami penurunan permintaan pengiriman barang di masa PSBB, mulai bulan Juni permintaan pengiriman barang mulai naik. 

Berdasar data PT Daop 1, pada periode 1 Juni-27 Juli Rail Express telah mengangkut 5.422 ton barang ke berbagai kota di Pulau Jawa.   


Rail Express menyediakan layanan kiriman barang retail di antaranya barang industri, paket, motor, produk UMKM, e-commerce, bahan pangan, dan lainnya. 
 

Tarif  Rail Express, misalnya untuk rute Jakarta ke Bandung tarifnya hanya Rp600/kg, Jakarta ke Surabaya hanya Rp1.500/kg dan Jakarta ke Malang hanya Rp1.700/kg. Tarif yang dikenakan adalah minimal 5 kg, kecuali untuk angkutan motor dihitung berdasarkan kapasitas CC.  


 KAI tetap menjamin keamanan barang dan selalu memberikan pelayanan yang maksimal. Pelanggan cukup menyerahkan barang ke loket Rail Express di stasiun dan mengambilnya di loket Rail Express stasiun tujuan. 


Layanan Rail Express tersedia di 60 stasiun di Pulau Jawa Khusus untuk bahan pangan, Rail Express melayani pengiriman bahan pokok, biji-bijian, buah, hewani, makanan olahan, rempah-rempah, sayur, susu, dan telur.   (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rempah-rempah adalah satu alasan bangsa Eropa datang ke Nusantara yang kini Indonesia. Mereka berambisi untuk berburu dan menguasai rempah-rempah yang dimiliki Indonesia.

Setidaknya ada tujuh jenis rempah-rempah yang menjadi kekayaan Indonesia, diantaranya lada, kayu manis, pala, vanila, cengkeh, kunyit, dan jahe.

Sejarah itu hanya menjadi cerita, karena komoditas yang disebut juga sebagai 'emas hitam' itu, kini malah harus diimpor dari negara lain. Dua jenis rempah yang diimpor dari negara lain yakni lada dan cengkeh.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari-Juni 2021, Indonesia telah mengimpor sebanyak 183,55 ton atau menurun 28,1% dari volume impor pada tahun lalu yang mencapai 255,43 ton.

Adapun negara pengekspor lada ke Indonesia di antaranya Vietnam, Thailand, Australia, Malaysia dan negara lainnya.

Nilai impor lada sepanjang Semester I-2021 tersebut mencapai US$ 895.541, angka ini naik 3,3% dibandingkan dengan nilai impor pada Januari-Juni 20220 yang sebesar US$ 867.114.

Selain lada, ada juga cengkeh yang diimpor dari Madagaskar, Singapura, dan Inggris.

Sepanjang Januari-Juni 2021, volume impor cengkeh mencapai 2.818 ton, volume tersebut meningkat 12,2% jika dibandingkan volume impor pada tahun lalu yang sebesar 2.511,2 ton.

Adapun nilai impor lada pada Semester I-2021 mencapai US$ 15,28 juta, atau naik 27% jika dibandingkan dengan nilai impor Januari-Juni 2020 yang sebesar US$ 12,03 juta


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading