Pasokan Batu Bara PLN Kritis, Amit-Amit Listrik Padam

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
10 August 2021 14:50
PT Indonesia Power melalui Unit Pembangkitan (UP) Suralaya menegaskan jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini tidak menyumbang polusi untuk Jakarta. (CNBC Indonesia/Nia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya mengungkapkan alasan pelarangan ekspor batu bara kepada 34 perusahaan.

Muhammad Wafid, Direktur Penerimaan Mineral dan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, menuturkan keputusan pelarangan ekspor ini karena pasokan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT PLN (Persero) tengah dalam kondisi kritis.

Bila PLN mengalami kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik, maka yang paling dikhawatirkan yaitu jangan sampai terjadi pemadaman listrik kepada masyarakat.


"Konsentrasi kami adalah jaminan tersedianya kebutuhan batu bara untuk pembangkit PLN yang beberapa sudah kritis. Kami tidak mau ada listrik padam gara-gara tidak adanya pasokan batu bara," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/08/2021).

Dia bahkan menyebut, berdasarkan laporan PLN, stok batu bara untuk sejumlah pembangkit listrik PLN kini berada di bawah 10 hari. Tak ayal bila ini disebut kritis.

"Ada kondisi beberapa PLTU kritis dengan ketersediaan < (kurang dari) 10 hari, sehingga harus segera diberi pasokan. Seperti itulah detailnya di PLN," ujarnya.

Rudy Hendra Prastowo, Direktur Energi Primer PLN, mengatakan pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Ditjen Minerba Kementerian ESDM dan juga semua pemasok batu bara terkait pasokan batu bara untuk PLN.

"Kami berkoordinasi dengan Minerba, kepada semua pemasok batu bara, termasuk perikatannya," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Sebelumnya, kondisi kritis pasokan batu bara ini juga sempat dialami PLN saat awal tahun, ketika terjadi banjir di sekitar area tambang batu bara di Kalimantan Selatan. Saat itu, tepatnya akhir Januari 2021, stok batu bara untuk PLN bahkan hanya cukup untuk lima hari.

Dalam kondisi normal, stok batu bara PLN bisa aman untuk sekitar 15 hari, sementara untuk pembangkit listrik swasta (Independent Power Producers/ IPP) bisa mencapai sekitar 20-25 hari.

PT PLN (Persero) mencatat telah menyerap batu bara sebesar 33 juta ton untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sepanjang semester I 2021. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Energi Primer PLN Rudy Hendra Prastowo.

"33 juta ton," ungkapnya singkat kepada CNBC Indonesia saat ditanya berapa konsumsi batu bara PLN sampai semester I 2021, Senin (26/07/2021).

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN Agung Murdifi pernah menyampaikan rencana konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada 2021 sebesar 63,78 juta MT.

Jika target tahun ini 63,78 juta ton, artinya sepanjang semester I ini serapan batu bara PLN sudah mencapai 51,74% dari target tahun ini.

Sementara kebutuhan batu bara untuk semua PLTU secara nasional pada 2021 diperkirakan naik sebesar 7,8% ke posisi 113 juta ton dari 104,8 juta ton pada 2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dari Kritis, Kini Pasokan Batu Bara ke Pembangkit PLN Naik!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading