Internasional

Kasus Corona AS Naik Lagi, Meningkat di 50 Negara Bagian

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
24 July 2021 07:01
Rangkaian bendera Amerika Serikat dipasang di Washington D.C., menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joe Biden dan Kamala Harris. (AP/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus corona (Covid-19) di Amerika Serikat kembali naik di 50 negara bagian dan District of Columbia (DC). AS melaporkan rata-rata 43.700 kasus baru per hari selama seminggu terakhir.

Mengutip data Universitas Johns Hopkins, angka ini naik 65% dibanding rata-rata pekan lalu. Meski tak separah awal pandemi, angka ini naik hampir tiga kali lipat dari dua pekan sebelumnya, termasuk titik terendah kasus Covid-19 AS selama 15 bulan di akhir Juni.


Kasus kembali naik seiring dengan varian Delta yang kini juga mewabah di AS dan stagnannya angka vaksinasi. Angka vaksinasi di AS memang mencapai puncaknya di April dengan 3 juta suntikan per hari, namun kini menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, angka itu turun menjadi sekitar 530.000 per hari.

Lima negara bagian dengan kasus baru harian tertinggi selama seminggu terakhir adalah Louisiana, Arkansas, Missouri, Florida, dan Nevada. Rata-rata naik dua kali lipat dibanding keseluruhan wilayah AS.

Vaksinasi di wilayah itu juga lebih rendah dibanding rata-rata negara bagian lain. Di mana Louisiana misalnya baru memenuhi target 47% suntikan pertama, dibanding rata-rata nasional 65,9% warga di tiap negara bagian.

Keterisian rumah sakit juga mulai naik 32% dibanding satu minggu lalu. Jumlah kematian juga kembali naik meski tidak pada kecepatan yang sama dengan kenaikan kasus dan rawat inap.

Para ahli dan pemerintah AS menyalahkan orang-orang yang enggan divaksin virus Covid-19 atas kenaikan ini. AS sendiri tidak mewajibkan vaksin namun gencar mengkampanyekan suntikan baik Pfizer/BioNTech, Moderna, ataupun J&J.

"Sebagian besar kasus Covid yang serius, 97% dari rawat inap di rumah sakit dan 99,5% dari kematian akibat Covid-19, terjadi di antara mereka yang tidak divaksinasi," kata Ahli Bedah Jenderal AS Vivek Murthy kepada wartawan pada pengarahan Gedung Putih, dikutip CNBC Internasional, Jumat (23/7/2021).

Direktur CDC Dr Rochelle Walensky juga berujar demikian. Ia menyebut kenaikan kasus kali ini adalah "pandemi orang-orang yang tidak mau divaksin".

Ia memohon agar warga mewaspadai varian Delta, yang pertama kali ditemukan di India itu. Menurutnya varian ini merupakan penyakit pernapasan paling menular yang pernah dilihat oleh ilmuwan.

"Varian Delta lebih agresif dan jauh lebih menular daripada strain yang beredar sebelumnya," kata Walensky kepada wartawan pada briefing dikutip laman yang sama.

"Ini adalah salah satu virus pernapasan paling menular yang kami ketahui, dan yang telah saya lihat dalam 20 tahun karir saya."

Dari data terbaru, varian Delta bisa membawa 1.000 kali lebih banyak virus di saluran hidung. Ini jika dibandingkan dengan strain asli corona yang muncul di Wuhan, China, akhir 2019.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading