AS Larang Warganya Lakukan Perjalanan ke Inggris

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
20 July 2021 16:05
A man jumps on the dance floor shortly after the reopening, at The Piano Works in Farringdon, in London, Monday, July 19, 2021. The country's nightclubs are reopening for the first time in 17 months as almost all coronavirus rules are set to be scrapped. (AP Photo/Alberto Pezzali)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) melarang warganya melakukan perjalanan ke Inggris. Larangan ini disampaikan pada Senin, (19/07/2021).

Pelarangan dilakukan mengingat kasus Covid-19 varian Delta sedang mengalami peningkatan. Bahkan peringatannya ada di "Level 4,". Level peringatan ini menjadi yang tertinggi dari CDC dan Departemen Luar Negeri.

Melansir dari CNBC Internasional, Selasa, (20/07/2021) meski larangan ini tidak mengikat larangan ini dilakukan setelah eksekutif maskapai penerbangan dan anggota industri perjalanan lainnya menekan pemerintahan Biden untuk melonggarkan pembatasan perjalanan Covid-19.


Pembatasan ini disebut telah menghancurkan permintaan untuk pemesanan internasional. AS telah memberlakukan larangan masuk bagi warga non-AS dari Uni Eropa (UE), Inggris, dan negara-negara lain.

Beberapa negara Eropa baru-baru ini membuka pintu bagi pengunjung internasional. Sementara itu Kanada menyampaikan pada Senin, (19/07/2021) akan mengizinkan warga AS yang sudah divaksinasi penuh masuk ke negaranya, untuk melakukan perjalanan yang tidak penting mulai 9 Agustus 2021.

Mengenai hal ini, Gedung Putih dan Kedutaan Besar Inggris di Washington tidak segera menyampaikan komentarnya. Sementara itu CDC mengatakan jika individu harus melakukan perjalanan ke Inggris mereka harus sudah vaksin secara penuh.

Di sisi lain Inggris malah membuka pembatasan pada Senin kemarin dan mengizinkan pertemuan di dalam ruangan dan membuka kembali klub malam. Padahal Covid-19 di negaranya masih mencapai 316.691 kasus, sebagaimana dilaporkan selama tujuh hari terakhir.

Terjadi kenaikan sekitar 43% dari periode tujuh hari sebelumnya, menurut analisis data CNBC yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Dampak dari pembatasan oleh AS, harga saham maskapai penerbangan AS turun tajam pada hari Senin. Peningkatan kasus Covid-19 menimbulkan kekhawatiran pada pemulihan ekonomi.

Kasus Covid di AS telah melonjak sekitar 66% dalam seminggu terakhir menjadi rata-rata tujuh hari sekitar 32.300 kasus baru per hari, menurut data Johns Hopkins. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Siap-siap, Donald Trump Janji Rebut Gedung Putih Segera


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading