Harga Sepeda Lipat Ini Hancur-hancuran, Brompton Gimana?

News - Thea Fathanah Arbar & Ferry Sandi, CNBC Indonesia
12 June 2021 12:20
Brompton folding bicycles are displayed in the front window of the brand's store in Covent Garden, central London, during England's second coronavirus lockdown, Friday, Nov. 20, 2020. The team at Brompton Bicycles company thought they were prepared for Britain's Brexit split with Europe, but they face uncertainty about supplies and unexpected new competition from China, all amid a global COVID pandemic. (AP Photo/Matt Dunham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren sepeda kini perlahan memudar. Akibatnya harga sepeda ikut terjun bebas. Pemilik Toko dan bengkel sepeda Ajo Bike yang berlokasi di Cisalak Depok, Harun Adi Saputra, membenarkan hal tersebut.

Harun, atau biasa dipanggil Kang Ajo, menjelaskan penurunan harga terjadi akibat minat gowes masyarakat yang mulai menurun tapi stok dari distributor sudah melimpah. Amblesnya harga umumnya terjadi pada segmen sepeda lipat segmen bawah.


"Harga sebagian sepeda turun tapi nggak semua jenis turun. MTB atau sepeda gunung high class tetap stabil," kata Kang Ajo kepada CNBC Indonesia Jumat (11/6/21).

"(Sepeda segmen) menengah ke bawah agak turun, terutama sepeda lipat, turunnya sangat signifikan, enam bulan lalu (Pacific) Noris yang harga Rp 4 juta karena barang kosong peminat banyak, harga barang bisa naik 2-3x lipat. Sekarang kebalikannya, stok distributor banyak, harga turun drastis."

Kang Ajo menuturkan sepeda lipat segmen di bawah Rp 5 jutaan terjun bebas setelah booming sepeda mereda. Meski begitu, sepeda jenis ini tetap dicari oleh sebagian masyarakat dari kalangan menengah ke atas dan penghobi.

Begitu juga dengan sepeda lipat impor seperti Brompton, meski penurunan harganya tidak begitu signifikan. Misalnya Brompton M6L Raw Lacquer beberapa bulan lalu mencapai Rp 41 juta, kini harganya turun landai sekitar Rp 37 juta.

Model M6R BE Color dari semula Rp 43 juta menjadi Rp 39 juta. M6R BE Lacquer yang semula kisaran Rp 46 juta saat ini kembali ke angka Rp 42 juta.

"Harga nggak begitu anjlok kayak sepeda lipat lokal biasa. Turun tapi wajar, nggak drastis kaya sepeda lokal model Pacific, Troy, Element turun harga Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Mungkin karena peminat Brompton segmented menengah ke atas semua, beda sama lokal yang di bawah Rp 10 juta peminat banyak. Kalau orang beli Brompton tertentu saja," papar Kang Ajo.

Tak hanya Kang Ajo, Ian, pemilik Toko Sepeda Harapan Kencana di Bogor, juga menuturkan hal yang sama. Kondisi, kata dia, kini seperti sebelum pandemi.

"Kondisi sekarang sudah sama saja seperti sebelum pandemi (tak booming), nggak kayak dulu awal pandemi, ramai banget tuh ketika awal pandemi," kata Ian kepada CNBC Indonesia.

"Misalnya itu (sepeda lipat) Rubick Gyro sekarang harganya Rp 4 juta, dulu sampai Rp 4,5 juta," lanjutnya.

Ia bilang saat ini, harga sepeda lipat murah dari harga di atas juga mengalami penurunan harga. Ini termasuk sepeda anak.

"Dibanding MTB, sepeda lipat paling dicari, mulai dari Rp 1,7 juta sampai Rp 1,8 juta itu tipe Evergreen. Yang anak dapat Rp 1,3 juta. Awal pandemi naik harganya, bisa di atas Rp 2 juta," kata Ian.

Pelaku importir sepeda Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) juga mengakui secara umum penurunan harga sepeda antara rata-rata 20-30%. Stok mulai melimpah pada segmen menengah bawah, dan permintaan mulai melandai jadi pemicunya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading