Ekonomi Tembakau dan Konsekuensi Merokok di Indonesia

News - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
31 May 2021 06:00
Ilustrasi cukai rokok. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tembakau dan rokok memiliki tempat tersendiri di Indonesia. Tidak hanya dari tinjauan budaya, melainkan juga dari sisi ekonomi.

Tak terhitung triliunan anggaran negara yang bersumber dari cukai rokok. Namun, semua itu bukannya tanpa konsekuensi, salah satunya dari lonjakan biaya kesehatan.

Melalui analisisnya, President of Foundation of a Smoke-free World Derek Yach dan Ekonom INDEF dan Rektor Universitas Paramadina Jakarta Didik J Rachbini menguraikan dampak negatif ketergantungan Indonesia terhadap rokok.

Derek YachFoto: Derek Yach (Tangkapan Layar Youtube Smoke Free World)


Didik Rachbini. Foto: dikhy sasraFoto: Didik Rachbini (Dokumentasi www.detik.com)


Mereka pun menyumbangkan berbagai saran kebijakan agar pemerintah mampu menekan tingkat perokok di dalam negeri. Simak selengkapnya dalam tulisan berikut ini:

Jika kita datang ke Indonesia sebagai turis, begitu memasuki bandara akan terlihat Indonesia adalah negara yang berasosiasi dengan tembakau dan rokok. Meskipun di tempat umum sudah banyak larangan merokok, tetapi di banyak tempat tetap terlihat orang-orang merokok, iklan rokok dominan, dan orang-orang berkumpul dengan rokok hadir di tengah mereka.

Melihat begitu banyak pria yang merokok, aroma kretek yang dianggap menggiurkan, dan rokok sebagai kebiasaan sehari-hari, maka mudah ditebak budaya rokok sudah tertanam kuat di bumi Indonesia.

Tetapi rokok yang sudah mendarah-daging di jantung kehidupan masyarakat mempunyai konsekuensi yang sangat berat. Hampir 300 ribu orang meninggal setiap tahun di Indonesia karena efek merokok. Biaya kesehatan publik yang harus ditanggung negara juga sangat tinggi karena berbagai penyakit muncul di masyarakat akibat kebiasaan merokok ini.

Kenyataan sehari-hari yang kasat mata tersebut merupakan refleksi budaya rokok yang telah berlansung sangat lama dan meluas. Ini juga mengindikasikan konsumen rokok juga sangat besar, yang juga merupakan cerminan dari luasnya ekonomi tembakau di Indonesia.

Seperti dicatat Kementerian Keuangan (Kemenkeu), penerimaan cukai rokok meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2020, penerimaan cukai rokok tersebut mencapai tidak kurang dari Rp 176 triliun.

Indonesia sudah dinobatkan menjadi negara perokok tertinggi atau nomor satu di Asia. Tingkat pria merokok (Male Smoking Rate) di Indonesia mencapai 76%. Tingkat pria merokok negara lainnya yang tinggi, tetapi jauh di bawah Indonesia, adalah Laos (57%), Korea Selatan (50%), Cina (48%) dan Vietnam (47%).

Jadi, dengan pengalaman datang sendiri ke Indonesia dan melihat indikator pria yang merokok, serta data ekonomi tembakau di Indonesia, maka negeri ini termasuk ke dalam negara yang ketergantungannya terhadap tembakau dan rokok sangat tinggi. Resiko dari keadaan ini jelas akan terlihat pada masalah kesehatan, ragam penyakit yang meluas di masyarakat karena rokok, serta biaya kesehatan yang tinggi.

Yayasan kami, Foundation of a Smoke-Free World, baru saja mengkaji dengan melakukan studi mengapa terjadi hal tersebut. Hasil dari laporan itu memperlihatkan kenyataan merokok sangat umum di Indonesia. Anekdot dan contoh anak-anak merokok dan bertukar rokok sebagai kado sangat banyak terjadi. Data statistik memperlihatkan betapa anekdot tersebut nyata dan valid.

Data terbaru mengungkapkan Indonesia merupakan salah satu peringkat tertinggi - jika tidak, hanya satu-satunya- merokok di dunia, yaitu 34% orang dewasa yang menjadi perokok (Sumber: Kementrian Kesehatan Indonesia. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas, 2018; dan World Health Organization. Country Profile: Indonesia (May 5, 2021) https://www.who.int/tobacco/surveillance/policy/country_profile/idn.pdf).

Sedangkan para pria yang menjadi perokok jauh lebih tinggi lagi, yakni lebih separuh dari seluruh pria Indonesia dilaporkan sebagai perokok. Sedangkan perempuan din Indonesia hamper sama sekali tidak menjadi perokok karena alas an budaya dan kepantasan.

Sebab-sebab terjadinya ini begitu rumit dan multifaktor. Budaya memiliki peran yang sangat penting dan juga ekonomi. Indonesia memiliki industri rokok yang besar dan menjadi bagian dari mesin ekonomi, yang menggerakkan konsumsi.

Terlebih lagi, industri rokok dan ekonomi tembakau secara luas merupakan rumah tempat bergantung banyak orang yang mata pencahariannya berasal dari tembakau di mana rantai tataniaganya begitu banyak. Gabungan kedua faktor ekonomi dan budaya tersebut, maka ketergantungan masyarakat terhadap tembakau dan rokok begitu tinggi.

Pengaruh lainnya adalah faktor kebijakan. Indonesia belum menandatangani Kerangka Konvensi Kontrol Rokok dari Organisasi Kesehatan Dunia. Persepsi sosial terhadap rokok masih positif. Banyak orang bukan hanya sekedar menerima kehadiran rokok, tetapi juga sangat diinginkan oleh kebanyakan para pria.

Praktek pelatihan kesehatan untuk berhenti merokok di Indonesia relatif lebih sulit. Sekitar 4 (empat) dari 5 (lima) laporan dokter membutuhkan lebih banyak pelatihan terkait praktik berhenti merokok (Sumber: Prabandari YS, Nichter M, Nichter M, Padmawathi RS, Muramoto M. Laying the groundwork for tobacco cessation education in medical colleges in Indonesia. Accessed May 5, 2021. https://www.educationforhealth.net/article.asp?issn=1357-6283;year=2015;volume=28;issue=3;spage=169;epage=175;aulast=Prabandari#ref5 )

Jumlah korban akibat merokok begitu banyak dan tersebar luas dan bahkan sangat mengejutkan. Penelitian memperkirakan lebih dari 290.000 orang Indonesia meninggal terkait rokok pada tahun 2019 (Sumber: Institute for Health Metrics and Evaluation. Global Burden of Disease. 2019. Accessed May 5, 2021. https://www.healthdata.org/).

Besarnya angka tersebut hampir berurutan dengan jumlah orang Indonesia yang meninggal karena Covid-19 sejak awal pandemi. Ini adalah korban yang terus terjadi dari tahun ke tahun, yang diperkirakan terus meningkat, jika tidak ada control terhadap konsumsi barang berbahaya seperti rokok (harmful product).

Angka tersebut menyumbang lebih dari seperempat dari semua kematian dalam negeri tiap tahunnya. Hal itu menyedihkan karena fakta tersebut merupakan representasi kehilangan nyawa, mata pencaharian, dan orang yang dicintai. Penggunaan dan konsumsi tembakau di Indonesia juga secara signifikan memerperburuk tantangan kesehatan utama lainnya, seperti tuberculosis. Satu dari setiap empat kematian tuberculosis di Indonesia karena merokok.

Yayasan kami bisa memberi saran kebijakan dan jalan keluar. Ada banyak cara berbasis bukti (evident based) untuk mengubah arus, perlahan tapi pasti, memerangi rokok dan bahayanya. Satu hal yang jelas untuk memulai adalah kebijakan nasional dengan menyediakan dokter dengan pelatihan yang mereka inginkan dalam kaitan dengan pengendalian merokok.

Sebuah survei mengungkapkan bahwa 9 dari 10 dokter tidak merasa sepenuhnya dipersiapkan untuk mendukung berhenti merokok. Empat dari lima dokter tersebut menginginkan lebih banyak pelatihan terkait topik, banyak dokter itu sendiri merokok.

Bahkan banyak diantara mereka mempercayai merokok kurang dari 10 batang rokok per hari itu aman. Padahal sudah jelas bahwa rokok adalah barang berbahaya dan merokok berapa pun jumlahnya juga berbahaya (Sumber: Prabandari YS, Nichter M, Nichter M, Padmawathi RS, Muramoto M. Laying the groundwork for tobacco cessation education in medical colleges in Indonesia. Accessed May 5, 2021).

Selain untuk mendukung dokter yang menjadi kunci utama untuk tembus berpengaruh ke pasien, pembuat kebijakan bisa mempertimbangkan inovasi yang ada untuk diberlakukan seperti negara lain yang melengkapi aksi pengendalian tembakau.

Misalnya, Inggris yang sudah memimpin dalam mendukung perokok berat untuk melakukan transisi ke alternatif yang lebih sedikit bahayanya. Pendekatan yang muncul cukup berhasil karena angka perokoknya semakin menurun dan yang berusaha berhenti semakin meningkat dengan berbagai dukungan (Sumber: Hartmann-Boyce J, McRobbie H, Lindson N, et al. Electronic cigarettes for smoking cessation. Cochrane Database Syst Rev. 2020;10:CD010216. Accessed May 5, 2021. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD010216.pub4/full ).

Meskipun berbagai alternatif mampu memfasilitasi untuk berhenti merokok, bagaimanapun, penerimaan publik bergantung pada ekonomi dan kebijakan pemerintah dalam mengdopsi inovasi tersebut. Kebijakan merespons yang mengakui adanya rangkaian risiko dan kemudian menerapkan aksi yang proporsional terhadap risiko yang secara efektif memberikan insentif ke perokok aktif untuk penghentian dan alternatif yang tidak terlalu berbahaya.

Apakah pendekatan tersebut dapat berlaku di Indonesia ― mengingat karakteristik budaya, ekonomi, kebijakan, dan lingkungan medis ― pada akhirnya menjadi pertanyaan empiris. Mengingat bau dan pemandangan merokok yang tampak di mana-mana, terutama di kalangan pria Indonesia, pertanyaan ini layak dijawab oleh pemerintah dan masyarakat sendiri.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading