Seorang wanita berdebat dengan petugas polisi saat demo untuk mendukung pemimpin oposisi Alexei Navalny di Ulan-Ude, ibu kota regional Buryatia, sebuah wilayah dekat perbatasan Rusia-Mongolia, Rusia, Rabu (21/4/2021). Aksi mendukung Navalny digelar di belasan kota yang berbeda di Rusia. (AP Photo/Anna Ogorodnik)
Unjuk rasa sebelumnya diadakan untuk menuntut agar pemerintahan Presiden Vladimir Putin memperhatikan kesehatan Navalny. Kondisi kesehatan politikus berusia 44 tahun ini menurun drastis di dalam penjara, setelah dia melakukan aksi mogok makan selama tiga pekan. (AP Photo/Denis Kaminev)
Para pengunjuk rasa di pusat kota Moskow meneriakkan "Freedom to Navalny!" dan "Biarkan Dokter Masuk!". Istri Navalny, Yulia, bergabung dalam unjuk rasa di ibu kota, tempat para demonstran meneriakkan namanya. (AP Photo/Markus Schreiber)
"Ini adalah salah satu teriakkan terakhir dari Rusia yang merdeka, seperti yang dikatakan banyak orang. Kami keluar untuk Alexei ... melawan perang di Ukraina dan propaganda liar," kata Marina salah seorang pengunjuk rasa yang ikut aksi di Moskow. (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)
Pihak oposisi berharap aksi unjuk rasa itu akan menjadi yang terbesar dalam sejarah Rusia modern. Mereka menyebutnya sebagai upaya untuk menyelamatkan nyawa Navalny dengan membujuk pihak berwenang agar mengizinkan dokternya sendiri untuk merawatnya. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)
Navalny tengah menjalani masa hukuman 2,5 tahun penjara yang dijatuhkan setelah dia dinyatakan bersalah melanggar ketentuan pembebasan bersyarat terkait dakwaan penipuan yang menjeratnya sejak lama. Dia menyebut vonis ini didasari motif politik. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)
OVD-Info yang merupakan kelompok pemantau aksi protes dan penahanan menuturkan bahwa 1.496 orang ditangkap dalam unjuk rasa ini yang terjadi di berbagai wilayah, termasuk 622 orang di St Petersburg dan 95 orang di kota Ufa. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)
Konfrontasi atas nasib Navalny adalah titik nyala dalam hubungan Moskow yang mengerikan dengan Barat. Sebelumnya Navalny dilarikan ke Jerman akibat menerima racun yang diduga buatan para intelijen Rusia. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)