Ada fenomena mal-mal di Jakarta di masa pandemi tampak terlihat kusam kurang terawat. Misalnya dua mal di kawasan Jakarta selatan, dan mal di Jakarta Barat yang tak jauh beda kondisinya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Umumnya fasad atau muka bangunan mal-mal tersebut terlihat lusuh dengan cat dinding luar bangunan, banyak yang sudah ditandai garis-garis hitam sisa-sisa aliran air hujan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Dinding-dinding kaca mal yang biasa mengkilap, kini seolah tak pernah tersentuh perawatan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pembatasan sosial setahun terakhir berdampak pada kunjungan dan aktivitas mal sehingga berimbas pada pemasukan bisnis mal. Para tenant yang menunggak sewa, tutup permanen, dan biaya protokol kesehatan yang tak sedikit dikeluarkan oleh pengelola agar tetap bisa operasi. Akhirnya ada biaya perawatan yang harus dikorbankan demi efisiensi. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Fenomena ini diakui oleh Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja. Ia bilang sudah lebih dari satu tahun kondisi Pusat Perbelanjaan Indonesia dalam keadaan terpuruk dan kondisi ini masih akan terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Ia bilang kondisi yang sangat sulit tersebut memaksa Pusat Perbelanjaan harus bertahan, yang salah satu caranya adalah dengan melakukan efisiensi. "Kemampuan daya tahan setiap Pusat Perbelanjaan masing - masing berbeda satu sama lain. Masing - masing Pusat Perbelanjaan mempunyai strategi yang berbeda - beda dalam melakukan efisiensi agar bisa bertahan selama pandemi ini," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Selasa (20/4). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)