Bisnis Ini 'Menangis' Saat Larangan Mudik Sudah Final!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
05 April 2021 14:43
Penumpang menaiki Kereta Api Taksaka jurusan Jogjakarta-Gambir di stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Selasa, (5/6). Memasuki minggu ketiga bulan Ramadan, sejumlah pemudik mulai memadati Stasiun Gambir, rata-rata pemudik mengaku memilih berangkat lebih awal guna menghindari terjadinya lonjakan penumpang arus mudik pada saat jelang mendekati Lebaran. (Penumpang menaiki Kereta Api Taksaka jurusan Jogjakarta-Gambir di stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Selasa, (5/6). Memasuki minggu ketiga bulan Ramadan, sejumlah pemudik mulai memadati Stasiun Gambir, rata-rata pemudik mengaku memilih berangkat lebih awal guna menghindari terjadinya lonjakan penumpang arus mudik pada saat jelang mendekati Lebaran.)

Jakarta, CNBC Indonesia - Imbas larangan mudik dari Pemerintah, ada satu subsektor dari pariwisata yang paling terkena dampak imbasnya. Selain hotel dan restoran, maka yang terkena imbas terbesar juga adalah agen travel. Selama ini, justru sub-sektor pariwisata ini yang paling kesulitan untuk bertahan.

"Sekarang ini kebanyakan ketika masyarakat ketika melakukan perjalanan yang dapat manfaat hanya hotel, restoran, dan tempat atraksi," sebut Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Pauline Suharno kepada CNBC Indonesia, Senin (5/4/21).

Sementara agen travel di masa pandemi ini kurang terberdayakan. Dalam program pemulihan pariwisata yang ada dari Pemerintah pun, agen travel merasa tidak terlalu banyak dilibatkan. Padahal, subsektor pariwisata ini menjadi penyambung antar subsektor pariwisata lainnya seperti hotel dan transportasi.


"Perjalanan wisata sudah diperbolehkan antar state, tapi harus menggunakan jasa BPW (Biro Perjalanan Wisata) yang tersertifikasi. Karena peran dari travel agent ini besar, ketika masyarakat melakukan perjalanan menggunakan jasa travel agent, yang akan mendapat manfaat bukan hanya si hotel saja, tapi juga PO Bus, restoran, toko souvenir, guide, supir, UMKM, dan lain-lain," jelasnya.

Harapan sempat muncul saat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat mengizinkan adanya mudik dalam pernyataannya pertengahan Maret lalu. Namun, ketika pemerintah berubah kebijakan yang akhirnya melarang mudik, maka agen travel kembali menunggu lebih lama untuk mendulang omset.

"Harapannya kan sudah boleh mudik (kini dilarang), berarti bisa melakukan perjalanan, sedikit banyak travel agent terutama pemilik transport pasti berharap akan ada pemasukan dengan jalannya bus/kendaraan pribadi," sebut Pauline.

Sebenarnya Astindo mendukung upaya Pemerintah tersebut agar angka positif Covid-19 bisa lebih terkendali dan memutus mata rantai. Namun, ada baiknya bisa berimbang dengan kegiatan ekonomi agar tetap bisa berjalan. Demi mengantisipasi meningkatnya kasus, ada cara lain yang bisa ditempuh.

"Penggunaan GeNose dimaksimalkan untuk masyarakat yang akan melakukan perjalanan via darat, lalu perjalanan diatur oleh travel agent/tour operator," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading