Maaf! RI Belum Bisa Boyong Jet Tempur Canggih Generasi ke-6

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
23 March 2021 20:17
Britain's defence minister, Gavin Wiliamson, unveiled a model of a new jet fighter, called 'Tempest' at the Farnborough Airshow, in Farnborough, July 16, 2018. REUTERS/Peter Nicholls

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sedang mengincar jet tempur demi memperkuat alat utama sistem senjata seperti Rafale dari Perancis dan F-15 EX yang merupakan generasi 4.5. Namun, beberapa bidikannya bukan merupakan generasi terbaru untuk jet tempur yaitu generasi 5 apalagi generasi 6.

Sementara negara tetangga lain yang sudah memesan jet tempur generasi ke-5 seperti Singapura dan Australia memesan F-35 yang merupakan generasi ke-5. Bahkan ada negara yang sudah melakukan pengembangan generasi ke-6.


Apakah pembelian jet tempur seperti Rafale atau F-15 EX masih relevan?

"Jelas masih relevan dikaitkan dengan Renstra (Rencana Strategi) 25 tahun sejak 2010. Karena dari sisi kapabilitas dan spefisikasi teknis F-15 EX dan Rafale adalah multirole combat fighter. Artinya bukan saja digunakan untuk pertempuran jarak dekat, tapi jarak jauh," kata pengamat militer Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Beni Sukadis kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/3/21).

Selain beberapa fungsi tersebut, jet tempur bidikan Indonesia masih bisa menjadi pencegat jarak jauh dan melakukan serangan udara ke darat dengan rudal air-to-surface missile (ASM) atau rudal yang didesain untuk diluncurkan dari pesawat militer seperti jet tempur.

Selain menjadi penggentar bagi negara lain, kehadiran jet tempur memang diperlukan demi memperbarui alutsista yang ada. Indonesia tercatat pernah memiliki beberapa unit pesawat lama, misalnya Hawk yang sempat jatuh menimpa beberapa rumah warga di area Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru Juni tahun lalu.

"Untuk menggantikan F5 AS, Hawk Inggris dan modernisasi setidaknya dibutuhkan 3 atau 4 skuadron. Kalau dikatakan perlu generasi keenam, bukan hal mendesak. Jadi yang harus dilihat kapabilitas dan alokasi anggarannya," jelas Beni.

TNI memang menyatakan sedang mengincar jet tempur anyar untuk menggantikan peralatan tempur yang sudah mulai usang (rundown) atau purna tugas.

"Di skuadron kita ada pesawat yang sudah purna tugas namun belum ada penggantinya, saya kira itu jadi prioritas," kata Kadispen TNI AU Marsekal Pertama TNI Indan Gilang kepada CNBC Indonesia, dalam program Profit, Senin (22/2/2021).

Rafale Buat Indonesia Cukup

Pengembangan jet tempur generasi ke-6 kebanyakan berasal dari negara dengan industri alat utama sistem senjata (alutsista) yang maju, misalnya F/X dari Amerika Serikat (AS), MiG-41/PAK-DP (Rusia) hingga Future Combat Air System (FCAS) yang merupakan gabungan antara Jerman, Prancis dan Spanyol. Lalu, apakah Indonesia bisa masuk ke dalam mega proyek ini?

"Dengan investasi teknologi tinggi (hitech), RI belum mampu untuk memproduksi sendiri hingga jangka panjang. Justru yang harus dilakukan adalah pelaksanaan kebijakan offset, sehingga ketika kita beli dari negara asing, tapi juga Produksi spare partnya di RI, Sehingga ada timbal balik yang menguntungkan bagi RI dan negara terkait," kata Beni.

Memang butuh biaya yang tidak sedikit demi menggarap proyek besar tersebut. Selain negara di atas, ada juga Inggris yang bekerjasama dengan Italia dan Swedia dalam menggarap proyek jet tempur Tempest, selain itu China juga mengambil langkah yang sama. Agak sulit rasanya bagi Indonesia untuk bisa masuk ke dalam proyek tersebut.

"Saya pikir untuk ikut Tempest, dan lain-lain, belum ke arah sana dalam kebijakan pengadaan untuk alutsista kita ya. Sekarang dibutuhkan adalah modernisasi berdasarkan renstra tersebut di atas yaitu memenuhi MEF 3 (Minimum Essential Force)," kata Beni.

Indonesia juga dikabarkan masih melakukan renegosiasi dengan Korea Selatan dalam pengembangan KFX/IFX. Indonesia masih berminat dalam kelanjutan proyek yang sudah ada sejak pemerintahan Presiden Susilo BambangYudhoyono (SBY).

"Apalagi saat ini masih terlibat dengan proyek KFX dengan Korsel. Kenapa tidak dilanjutkan saja jika memang akan menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang," sebutnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Taksiran Harga Jet Tempur KFX yang Bikin Geger RI-Korsel


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading