Internasional

Myanmar Makin Brutal, Polisi Lempar Granat Setrum ke Pendemo

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
02 March 2021 15:53
Polisi menembakan gas air mata saat demo di Myanmar. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Polisi diĀ Myanmar kian brutal. Pada Selasa (2/3/2021), anggota polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan melepaskan tembakan granat setrum (stun grenades).

Para pengunjuk rasa, yang mengenakan pelindung kepala dan memegang perisai, berkumpul di belakang barikade di berbagai bagian kota utama Yangon untuk meneriakkan slogan-slogan menentang kekuasaan militer.


"Jika kita ditindas, pasti ada ledakan. Jika kami kena, kami akan balas menyerang, "teriak para demonstran sebelum polisi menembakkan granat setrum untuk membubarkan kerumunan di setidaknya empat tempat berbeda di kota, dikutip dari Reuters.

Tidak ada laporan tentang cedera di Yangon tetapi beberapa orang terluka di kota barat laut Kale saat polisi menembakkan peluru tajam untuk membubarkan kerumunan. Hal ini dibenarkan oleh seorang aktivis demokrasi dan seorang reporter di kota itu.

"Beberapa terluka, dua dalam kondisi kritis," kata aktivis War War Pyone.

Setidaknya 21 pengunjuk rasa telah tewas sejak kerusuhan dimulai. Tentara mengatakan satu polisi tewas.

Sementara menteri luar negeri dari ASEAN akan mengadakan pembicaraan dengan militer Myanmar dalam upaya untuk memadamkan kekerasan dan menemukan jalan keluar dari krisis tersebut.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan rekan-rekannya di ASEAN akan terus terang ketika mereka bertemu melalui video call pada hari Selasa dan akan memberi tahu perwakilan militer Myanmar bahwa mereka terkejut dengan kekerasan tersebut.

Dalam wawancara televisi Senin malam, Balakrishnan mengatakan ASEAN akan mendorong dialog antara Suu Kyi dan junta.

"Mereka perlu bicara, dan kami perlu membantu menyatukan mereka," katanya.

ASEAN terdiri dari Myanmar, Singapura, Filipina, Indonesia, Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, Brunei, dan Vietnam.

Pembicaraan itu akan dilakukan dua hari setelah kerusuhan terparah penuh darah sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi sebulan lalu, yang menimbulkan kemarahan dan protes jalanan massal di seluruh Myanmar.

Kudeta pada 1 Februari menghentikan langkah tentatif Myanmar menuju demokrasi setelah hampir 50 tahun berada di bawah pemerintahan militer. Akibatnya kudeta ini menarik kecaman dan sanksi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, dan meningkatnya kekhawatiran di antara negara tetangga.

Pemimpin Junta Jenderal Min Aung Hlaing, dalam sambutannya yang dibacakan di televisi pemerintah oleh seorang penyiar, mengatakan para pemimpin protes dan "penghasut" akan dihukum dan mengancam akan melakukan tindakan terhadap pegawai negeri yang menolak bekerja.

Min Aung Hlaing telah berjanji untuk mengadakan pemilihan baru dan menyerahkan kekuasaan kepada pemenang tetapi tidak membeberkan kapan hal tersebut akan dilakukan.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading