Anggaran Vaksin Covid-19 Rp 58 T, Riset Hanya Rp 670 M

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
08 February 2021 18:05
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan berusia lanjut saat kegiatan vaksinasi massal dosis pertama di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Jakarta, Senin (8/2/2021). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memulai vaksinasi tenaga kesehatan di atas 60 tahun setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan vaksin tersebut untuk lansia. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan RI membuat estimasi anggaran untuk penanganan Covid-19 2021 sebesar Rp 134,46 triliun, di mana Rp 58,18 triliun di antaranya untuk program vaksinasi.

"Untuk anggaran vaksin sebesar Rp 58,18 triliun ini masih bisa bergerak. Ada pelaksanaan distribusi, informasi yang akan mengawal terus pengadaan vaksinasi," ujar Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono saat Rapat dengan DPR di Jakarta, Senin (8/2/2021).

Anggaran tersebut juga ada yang diperuntukkan untuk penelitian. Sayangnya, angkanya hanya Rp 0,67 triliun atau Rp 670 miliar.


"Kemudian kami juga melakukan apresiasi akan adanya anggaran penelitian dengan memberikan anggaran Rp 0,67 triliun untuk penelitian. Genome Sequencing, deteksi kemungkinan mutasi, kemudian penelitian vaksin nasional merah putih dan uji klinis obat," katanya.

Terkait anggaran yang minim ini, dalam rapat bersama DPR Komisi IX sebelumnya sudah sempat disinggung. Bahkan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro kala itu mengakui jika Indonesia ketinggalan dalam riset pengembangan vaksin covid-19 dibanding negara lain.

"Ketika Maret rapat pertama konsorsium saya minta lembaga Eijkman, ayo membuat vaksin. Tapi kemudian, setelah saya perhatikan, diakui jujur, membuat kita ketinggalan vaksin apapun, dalam hal ini vaksin covid-19, teknologi vaksin R&d dan Bio Farma di hilir ketinggalan," katanya pekan lalu.

Dia menerangkan, vaksin imunisasi memang diproduksi oleh PT Bio Farma. Namun, riset yang dilakukan berasal dari pihak luar. Bio Farma dalam hal ini melakukan pengembangan dari bibit vaksin yang sudah ada. "R&D nggak ada," tegasnya.

"Saya tanya, pernah tidak riset bibit vaksin. Ada yang jalan, tapi belum ada yang sampai Bio Farma," imbuhnya.

Secara gamblang dia mengakui, riset yang dilakukan Indonesia ketinggalan dibanding negara dan perusahaan besar yang sudah menyatakan siap dengan vaksin yang dibuat. Adapun bibit vaksin oleh Eijkman misalnya mulai dari vaksin DBD, hepatitis B dan malaria, belum sampai ke level pabrik hingga saat ini.

"Mendadak harus buat vaksin covid-19, jujur memulai dari nol," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading