Kasus Covid-19 di Jabar Meledak, Kang Emil Ungkap Penyebabnya

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
01 February 2021 12:40
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menggelar Rapat Lintas Sektoral Pencegahan dan Penanganan COVID-19 Tingkat Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (3/3/20). (Foto: Rizal/Humas Jabar)

Jakarta, CNBC Indonesia- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan masalah data pasien Covid-19 masih menjadi masalah di wilayahnya, akibatnya data yang dilaporkan per harinya pun menjadi tidak akurat.

Dia mencontohkan beberapa hari yang lalu Jabar mencetak rekor kasus baru hampir 4.000 kasus, nyatanya lebih dari 2.000 kasus yang dilaporkan merupakan kasus lama yang bercampur.

"Kalau ada laporan kasus masih menjadi perdebatan karena bercampur dengan kasus lama. Empat hari yang lalu Jabar kasusnya 3.000 dan hampir 2.000 kasus lama. Jadi kalau disebut hari ini ada lonjakan ya tidak juga. Saya juga bingung itu laporan H-5,H-7, sampai H-14. Itulah kenapa saya sampaikan tolong diperbaiki karena nanti status merah, orange, kuning jadi kacau," kata Ridwan Kamil, Senin (01/02/2021).


Jika data bisa tertunda selama itu, maka banyak kasus yang telah lewat atau sudah sembuh. Masalah sinkronisasi data juga akan berpengaruh pada tingkat keterisian rumah sakit yang masih melonjak dan penuh.

"Tingkat keterisian RS tidak bisa dibohongi itu nyata, saya titip kepada kepala daerah untuk Covid-19 harus 30%, kalau sebuah RS punya 300 bed, itu 100 bed wajib untuk Covid-19," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan tidak ada lagi karantina rumah dan memaksimalkan karantina yang dikelola pemerintah kota dan kabupaten. Dengan begitu, Ridwan Kamil mengharapkan tidak ada lagi rasio tingkat keterisian rumah sakit yang mengkhawatirkan.

"Kita mengubah strateginya karena kalau kita energinya habis di ujung proses yakni rumah sakit tidak akan menyelesaikan secara fundamental. Hari ini tingkat keterisian rumah sakit selalu penuh dan tidak bisa dibohongi," ujar dia.

Masalah penumpukan data ini juga beberapa kali terjadi, sehingga membuat lonjakan kasus pada hari tertentu. Sebelumnya, ketika angka kasus baru secara nasional rekor 4 hari berturut-turut salah satunya diduga karena penumpukan data.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito pernah mengatakan terlambatnya data ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi ini, sehingga tidak ada penumpukan data.

Kementerian Kesehatan juga tengah memilah data yang masuk 17 Januari, dan data yg terlambat masuk dari minggu sebelumnya. Jika data yang dimiliki tidak real time maka kebijakan yang diambil pun tidak tepat waktu sehingga tidak efektif.

"Kemenkes dan Pemda harus memperbaiki data Covid-19 sehingga mengurangi gap dan data pusat dan daerah. Saya minta ke depannya tidak ada delay data karena ini sangat krusial dalam pengambilan keputusan," katanya.

Sebagai informasi, Jawa Barat mencatat lonjakan kasus baru Covid-19 pada pekan lalu. Hal tersebut berdasarkan data Kementerian kesehatan. Bahkan Jabar, dua kali mencatatkan kasus harian di atas 4.500. 


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading