MARKET DATA

Hati-hati, Kematian Akibat Covid-19 di RI Makin Tinggi!

Tirta Citradi,  CNBC Indonesia
29 December 2020 11:31
Antrean untuk melakukam Rapid Test Antigen Penumpang Kereta Api di Stasiun Senen.
Foto: Antrean untuk melakukam Rapid Test Antigen Penumpang Kereta Api di Stasiun Senen. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memprediksi kapan puncak wabah Covid-19 di Indonesia terjadi bukanlah perkara mudah. Epidemiolog, matematikawan, hingga ekonom telah gagal dalam membuktikan proyeksi mereka soal kapan puncak tertinggi akan dicapai. Nyatanya sampai sekarang puncak belum kelihatan, sementara kasus baru dan kematian terus bertambah. 

Total kasus kumulatif Covid-19 di dalam negeri saat ini sudah tembus angka 700 ribu orang. Hampir 82% dari total kasus tersebut sudah dinyatakan sembuh. Sebanyak 15% di antaranya masih menjalani isolasi mandiri maupun perawatan di berbagai fasilitas kesehatan yang ada. Jumlah korban meninggal mencapai 3% dari total kasus.

Sekilas melihat angka kesembuhan di atas 80% dan kematian di bawah 5% memang membawa harapan. Apalagi sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyebut tingkat kesembuhan dan mortalitas di Indonesia lebih baik dari rata-rata global.

Namun sesungguhnya semua itu tidak bisa dibanggakan karena ada fakta yang tak bisa dipungkiri. Kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan 3M yang rendah, penanganan pandemi Covid-19 lewat 3T yang kendur sering membuat kasus harian baru Covid-19 cetak rekor.

Untuk mencapai 100.000 kasus, Indonesia hanya membutuhkan waktu lima bulan. Namun untuk kasus bisa bertambah menjadi lima kali lipatnya hanya butuh waktu tiga bulan saja.

Hal tersebut diakibatkan oleh kenaikan kasus sampai dua kali lipat di setiap milestone-nya. Untuk sampai angka 50 ribu kasus maka waktu yang dibutuhkan dari saat posisi kasus di angka 10 ribu adalah 57 hari atau 2 bulan. Rata-rata kasus harian tercatat mencapai 709.

Kemudian dari 50 ribu kasus menjadi 100 ribu kasus hanya butuh waktu satu bulan saja dengan pertambahan kasus per hari mencapai 1.554. Sudah dua kali lipat dibandingkan dengan milestone sebelumnya.

Dari 100 ribu kasus ke 500 ribu kasus hanya butuh waktu tiga bulan dengan rata-rata pertambahan kasus per hari mencapai 3.361, juga dua kali lipat dari milestone sebelumnya.

Sekarang pertambahan kasus baru sudah berada di kisaran 6.000-7.000 per harinya. Apabila tren ini terus dipertahankan maka tak sampai dua bulan lagi kasus Covid-19 di Indonesia bisa tembus ke 1 juta secara kumulatif.

Tren kasus harian yang terus meningkat jelas menjadi alarm peringatan bagi masyarakat maupun pemerintah untuk benar-benar kembali fokus menuntaskan permasalahan pandemi yang masih jauh dari kata berakhir ini.

Sampai saat ini pertambahan kasus harian Covid-19 di Tanah Air masih lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah orang yang sembuh dan meninggal. Hal itu membuat jumlah kasus aktif juga cenderung mengalami peningkatan.

Secara tren baik kasus baru, kesembuhan maupun kematian akibat Covid-19 secara nasional terus meningkat. Hal ini tercermin dari indikator rerata berjalan untuk ketiga indikator tersebut. 

Rata-rata kasus harian selama lima hari terakhir masih lebih tinggi dibanding 10 dan 20 hari terakhir. Hal ini juga terjadi untuk kasus kesembuhan dan kematian akibat Covid-19.

Namun apabila tren ini terus berlanjut maka bisa jadi membahayakan!

Apabila mengacu pada laporan OECD yang bertajuk Healthcare at a Glance 2019, untuk 260 juta lebih penduduk, Indonesia hanya memiliki 1 kasur per 1.000 orang atau 100 kasur per 100.000 populasi.

Ini dilaporkan pada 2017 dan angkanya tidak jauh berbeda dengan yang dilaporkan Sen-Crowe dkk (2020) di bawah 200 kasur per 100.000 populasi. Sementara itu untuk tenaga medis Indonesia hanya memiliki 30 dokter per 100.000 penduduk dan 120 perawat untuk ukuran populasi yang sama. 

Sen-Crowe, et al (2020). A Closer Look Into Global Hospital Beds Capacity and Resource Shortages During the COVID-19 Pandemic. Journal of Surgical ResearchSumber : Sen-Crowe, et al (2020). A Closer Look Into Global Hospital Beds Capacity and Resource Shortages During the COVID-19 Pandemic. Journal of Surgical Research

Melihat minimnya jumlah tenaga medis dan fasilitas kesehatan, tentu saja kenaikan kasus terutama untuk kasus aktif hanya akan membuat sistem kesehatan kolaps. Pasien Covid-19 yang tak tertangani dengan baik berisiko kehilangan nyawa.

Tidak hanya pasien saja yang berisiko tinggi. Tenaga kesehatan seperti perawat dan dokter yang berjuang di lini paling depan pun memiliki risiko yang tak kalah tinggi. Apabila para pejuang di lini terdepan ini tumbang, lantas siapa yang akan merawat puluhan ribu pasien Covid-19 yang saat ini memenuhi rumah sakit?

Jelas ini harus menjadi renungan bersama. Kesadaran bahwa nyawa adalah sebuah taruhan di dalam pandemi ini adalah kunci utama untuk melalui tragedi kemanusiaan abad ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/twg) Add as a preferred
source on Google
Next Article Trump Teken Perintah Eksekutif, Amerika Serikat Keluar dari WHO


Most Popular
Features