Ada Tanda Ritel Membaik, Tapi Kasus Covid Bikin Deg-Degan

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
11 December 2020 17:25
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel dapat tumbuh tahun depan walaupun masih dalam kondisi tertekan. Hal ini dengan asumsi saat konsumsi masyarakat yang sudah merangkak naik.

Ketua Umum Asosiasi Pelaku Ritel Indonesia Roy Nicholas Mendey mengatakan 2021 sudah memperlihatkan indikator yang optimistis dari kondisi akhir tahun ini. Pertama tingkat inflasi saat ini sudah mulai membaik setelah deflasi beberapa bulan. Tiga bulan lalu berturut-turut tingkat inflasi terus membaik di angka 0,07% pada bulan Oktober dan 0,28% pada November, hal itu menandakan mulai meningkatnya konsumsi.

Kedua, adanya titik cerah vaksin Covid-19. Penetrasi pemberian vaksin kepada masyarakat sangat berpengaruh terhadap naiknya angka penjualan ritel. Jika pemberian vaksin dan pengendalian angka kasus covid-19 dapat teratasi dengan baik, membuat kepercayaan diri masyarakat meningkat untuk melakukan pembelanjaan.


"Untuk tahun depan kita optimistis dapat tumbuh 4-5% sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, karena konsumsi salah satu kontributor terbesar ke PDB," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (11/12).

Target pertumbuhan ini cenderung lebih rendah dibandingkan tahun 2019 lalu yang dipatok mencapai 7-8%. Sedangkan untuk realisasi tahun ini, Roy menyatakan hanya tumbuh 1,6 - 2% sampai akhir tahun akibat terkoreksi pandemi.

Roy mengatakan akibat pandemi ini membuat konsumsi masyarakat turun 70-80%. Sehingga penanganan pandemi Covid - 19 menjadi kunci untuk mendorong konsumsi masyarakat.

Sehingga bila angka positif Covid - 19 belum terkontrol, maka larangan-larangan untuk berjualan akan terus diadakan. Kondisi yang belum terkendali masyarakat akan cenderung menunggu keadaan dan meminimalisir pengeluarannya yang membuat konsumsi turun.

Walaupun dengan pola belanja saat ini yang cenderung online, pola belanja yang konservatif masih memberikan kontribusi yang besar melihat banyak toko ritel besar atau kecil yang tidak go online.

Bank Indonesia melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan oleh indeks penjualan riil IPR pada Oktober 2020 berada di 183,5, turun 14,9% dibanding periode sama tahun sebelumnya year on year (YoY), lebih dalam ketimbang penurunan September 2020 8,7% YoY.

Penurunan terjadi pada mayoritas kelompok makanan, minuman, tembakau yang tercatat kontraksi 5,6% setelah bulan sebelumnya tumbuh 3,1% year on year. Kemudian terjadi penurunan kinerja kelompok peralatan komunikasi dan informasi. Serta kelompok berang lainnya dari semua masing-masing 22,2% YoY dan 51,5% YoY.

Untuk November 2020 BI memperkirakan penjualan ritel terkontraksi 15,7% Yoy. terutama disebabkan penurunan penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi.

Roy memperkirakan penurunan konsumsi juga akan terjadi setelah naiknya cukai rokok pada tahun depan. Dia memprediksi konsumsi rokok dapat terkoreksi mencapai 25% akan terjadi pada kalangan masyarakat menegah ke bawah pada kuartal II dan III.

"Tapi untuk pembeli masyarakat menengah atas tidak akan terlalu terpengaruh," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading