Mereka yang Masih Belanja di Tengah Pandemi Covid-19

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
02 December 2020 17:33
Suasana ramai pengunjung Metropolitan Mall  di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (30/10). Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi yang diterapkan Pemkot Bekasi berdampak positif terhadap iklim usaha di pusat perbelanjaan atau mall. Pasalnya, aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan yang sempat anjlok saat PSBB hingga kini mulai ramai. Adanya libur cuti bersama juga membuat sejumlah warga ramai mengunjungi mall. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai, dengan adanya kebijakan itu membuat kunjungan ke mall akan kembali berangsur normal, di mana pengunjung bisa mencapai 50% dari kapasitas pusat perbelanjaan.  Pantau CNBC Indonesia sejumlah tenant both pameran di lantai pertama di padati pengunjung. Warga banyak ramai bergantian keluar masuk mall. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah masih melonjaknya pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini, pola konsumsi masyarakat telah banyak berubah, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke atas.

Komisaris Utama Bank Mandiri sekaligus Ekonom Senior, Chatib Basri menjelaskan, dari tiga kelompok masyarakat kelas berpenghasilan tinggi (kelompok atas), kelas berpenghasilan rendah (kelas menengah), dan kelas berpenghasilan bawah (kelompok bawah), yang masih banyak melakukan spending atau sering berbelanja adalah kelompok kelas bawah.

Pasalnya, kata Chatib kelompok kelas bawah, masih harus melakukan belanja kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Sementara kelompok kelas menengah ke atas, tidak demikian.

"Ini yang menarik, kelompok miskin atau kelompok yang bawah spendingnya drop dari 100% ke 84%. Sementara kelompok menengah dan atas, tidak belanja. [...] Kalau orang semakin kaya, porsi (belanja) dari non esensialnya semakin tinggi," kata Chatib menjelaskan temuan dari riset yang dilakukan Bank Mandiri secara virtual, Rabu (2/12/2020).

Dikarenakan kelas menengah dan kelas atas mengurangi belanja non esensialnya, membuat mereka lebih memilih untuk tidak berbelanja. Untuk kelas menengah, persentase pengeluaran atau spendingnya dari 100% turun ke 72,4%. Sementara di kelas atas, persentase spendingnya dari 100% turun ke 69,7%.

Alasan kelas menengah dan kelas atas tidak spending, kata Chatib karena biasanya mereka merasa nyaman untuk berbelanja dengan mobilitas yang tinggi.

"Karena mungkin butuh traveling, kalau beli barang mahal kan dia nggak sepenuhnya berani beli dilakukan online," jelas Chatib.

Maka tak heran, kelompok kelas menengah dan kelas atas, melakukan spending untuk membeli barang-barang sekunder, seperti barang-barang untuk memenuhi kepuasan hobinya.

"Kelompok atas ini mengubah konsuminya, mengurangi barang esensial, kemudian cari sepeda, atau beli tanaman hias atau ikan hias. Karena dia stay at home, work from home. Maka mesti ada aktivitas yang dilakukan, gardening, dan sebagainya," kata Chatib melanjutkan.

Dari data berdasarkan hasil riset Bank Mandiri, tercatat spending untuk barang-barang hobi memiliki porsi 94,8%, bahan bakar kendaraan (gasolines) 91,4%, barang elektronik 87,2%, dan barang-barang olahraga 71,5%.

Sementara, untuk menjaga daya beli Chatib memandang, penting bagi pemerintah untuk bisa meningkatkan belanja perlindungan sosial khususnya bantuan sosial berupa bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat yang miskin yang ekonominya terdampak karena Covid-19.

"Jadi yang mesti dilakukan (pemerintah) mendorong supaya kelompok miskin ini bisa tetap belanja, yakni dari penyaluran bansos (bantuan sosial). Kemudian encourage yang menengah-atas supaya belanja," jelas Chatib.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading