RI Negara Pengemis Utang? Kemenkeu: Tuduhan yang Tak Terbukti

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
20 November 2020 19:32
Gedung kemenkeu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia kembali mendapat cibiran terkait utang. Tak lain, cibiran datang dari ekonom Rizal Ramli.

Eks Menko Kemaritiman di pemerintahan Presiden Jokowi periode I menyatakan utang pemerintah semakin menumpuk dan parah. Ia pun menyebut Indonesia sebagai pengemis utang.

Pernyataan Rizal Ramli tersebut langsung dibantah oleh Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo. Menurutnya, utang saat ini diperlukan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebab, penerimaan dari pajak masih tertekan karena dunia usaha yang juga terdampak Covid-19. Disatu sisi pemerintah harus tetap melindungi masyarakat sehingga utang menjadi keharusan.

Namun, ia memastikan bahwa bunga utang tidak semakin tinggi, justru turun dibandingkan awal tahun ini. Oleh karenanya, ia menilai pernyataan tersebut tidak berasalan.

"Tuduhan Pak RR tidak terbukti, bunga utang atau yield justru turun, dari 7.03% di awal tahun menjadi 6,15% di November," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Terkait pinjaman dana yang baru saja didapatkan didapatkan dari Jerman dan Australia dinilai sebagai simbol kemitraan dan persahabatan kedua negara tersebut untuk mendukung Indonesia menghadapi masa sulit ini.

Lanjutnya, bunga yang diberikan kedua negara tersebut pun sangat rendah dengan tenor yang panjang.

"Maka pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga persahabatan dan komitmen," tegasnya.

Diketahui, melalui media sosial twitternya, Rizal Ramli lagi-lagi mencibir pemerintah karena utang yang dinilai semakin menumpuk.

"Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI ? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah. Makanya mulai ganti strategi jadi "pengemis utang bilateral" dari satu negara ke negara lain, itupun dapatnya recehan itu yg bikin 'shock'," ujarnya yang dikutip Jumat (20/11/2020).

Adapun utang RI per akhir September 2020, tercatat Rp 5.756,87 triliun atau 36,41% dari Produk Domestik Bruto (PDB).



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading