Geger, China Ternyata Pernah Hantam Rudal Kapal AS di LCS

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
17 November 2020 19:20
USS Gabrielle Giffords (LCS 10) dan Angkatan Laut Republik Singapura RSS Steadfast (FFS 70) berlatih bersama di Laut Cina Selatan. (Twitter @USPacificFleet)

Jakarta, CNCB Indonesia - Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dikabarkan telah menembak sebuah target saat melakukan pelatihan di wilayah rantai Kepulauan Paracel Laut China Selatan (LCS) Agustus 2020 lalu.

Wang Xiangsui, pensiunan perwira Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), telah mengatakan kepada SCMP bahwa satu rudal balistik jarak menengah (IRBM) DF-26B dan satu rudal balistik jarak menengah (MRBM) DF-21D telah mengenai kapal target saat berlayar di dekat rantai Pulau Paracel selama latihan pada Agustus.

"Kami meluncurkan DF-21 dan DF-26, dan misil menghantam kapal yang berlayar di selatan Kepulauan Paracel," kata Wang.


Namun tidak dirinci tentang kapal target, bagaimana jenisnya, seberapa cepat kapal itu mungkin bergerak, atau bagaimana PLA mungkin memberi isyarat kepada rudal target mereka. 

Setelah latihan itu, seorang atase militer Amerika Serikat (AS) di Jenewa, mengeluh dan mengatakan "hal itu akan mengakibatkan konsekuensi yang parah jika misil menghantam kapal induk Amerika. Mereka melihat ini sebagai unjuk kekuatan. Tapi kami akan melakukan ini karena provokasi mereka."

Selain itu, Pentagon juga ikut berkomentar mengecam aksi China itu. Laporan berikutnya dari Reuters mengatakan bahwa pemerintah AS telah menilai bahwa China telah menembakkan total empat rudal balistik.

"Departemen Pertahanan prihatin dengan keputusan Republik Rakyat China (RRT) baru-baru ini untuk melakukan latihan militer, termasuk penembakan rudal balistik, di sekitar Kepulauan Paracel di Laut China Selatan pada 23-29 Agustus," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan pada 27 Agustus. "Tindakan China, termasuk uji coba rudal, semakin mengguncang situasi di Laut China Selatan."

Tensi di LCS kembali memanas setelah beberapa kali aksi-aksi provokatif dilancarkan baik oleh Beijing maupun Washington dengan menggerakkan armada tempurnya maupun pesawat pengintai. Meski AS sendiri telah memilih Joe Biden sebagai presiden yang menggantikan Donald Trump tetapi analis memprediksi ketegangan di laut kaya hasil migas itu belum akan mereda, bahkan mungkin lebih memanas lagi.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading