Suasana toko ritel sepatu milik Mitra Adi Perkasa (MAP) yang sepi pengunjung di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (12/11/2020). Industri ritel fesyen menjadi salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19. Imbasnya, MAP Group dikabarkan melakukan PHK terhadap 2500 pegawainya (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Kejadian ini menjadi salah satu dampak akibat menurunnya daya beli masyarakat, dan ada faktor perubahan gaya masyarakat saat berbelanja produk fesyen. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Sebelum pandemi Covid-19, belanja barang fesyen menempati posisi keempat dengan angka 67%. Berada di bawah tiga aktivitas lain, yakni makan di restoran cepat saji dengan 79%, kemudian membeli minuman seperti bubble tea dan kopi dan pergi ke bioskop dengan masing-masing-masing di angka 71%. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Namun, setelah adanya pandemi Covid-19, ada perubahan yang cukup signifikan. Misalnya daya beli masyarakat mulai beralih kepada kebutuhan kesehatan, adapun pembelian fesyen anyar menurun jadi 61%. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Perubahan pola masyarakat ini diyakini menjadi penyebab ritel fesyen megap-megap, termasuk terdampak bagi MAP Group. Brand yang sudah dikenal dengan produk-produk berkelas ini dikabarkan melakukan PHK terhadap 2500 pekerjanya. Serikat Pekerja di bawah MAP Group mengaku mendapatkan ketidakadilan. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
"Di Sogo sendiri ada 2.500 yang dipotong gajinya. Yang dirumahkan untuk dirancang PHK ada sekitar 300 orang. Itu jumlah hanya Sogo saja untuk MAP Group mungkin lebih besar lagi," kata Onny Assad yang merupakan Ketua Bidang Hukum Serikat Pekerja Industri Ritel Indonesia kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/11/2020). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Manajemen, sambungnya juga menyurati karyawan untuk secara "sukarela" mengajukan PHK kepada perusahaan dengan imbalan 1 kali PMTK. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Wabah Covid-19 pertama kali melanda RI pada bulan Maret. Sebulan kemudian DKI Jakarta dan berbagai wilayah di Indonesia lain menerapkan PSBB. Para peritel pun dibuat pusing bukan kepalang. Penjualan langsung drop dobel digit.(CNBC Indonesia/ Muhammad sabki)
Kontraksi paling parah tercatat di bulan Mei. Kala itu penjualan ritel hampir untuk seluruh kategori mencapai titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Seiring dengan pelonggaran yang dilakukan pada bulan Juni, penjualan mulai merangkak naik. Namun tetap saja jauh dari kata pulih ke level pra-pendemi. (CNBC Indonesia/ Muhammad sabki)
Masyarakat yang masih enggan untuk berbelanja dan berkunjung ke mall membuat para peritel terutama fesyen menjadi yang paling babak belur, mengingat dagangannya bukan termasuk kebutuhan yang mendesak seperti makanan maupun obat-obatan saat pandemi. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)