Blak-blakan Buwas Soal Mafia Pangan Hingga Stok Beras RI

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
26 October 2020 08:15
Budi Waseso di Bulog. (CNBC Indonesia/ Efrem Siregar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebut mafia pangan masih terus menjadi berkeliaran hingga saat ini, bahkan tetap memiliki kekuasaan. Kehadiran mafia pangan tersebut menjadi parasit bagi sistem tata kelola pangan di Indonesia, karena bukan hanya merugikan konsumen, namun juga petani. Sayang, tidak mudah untuk memberantasnya.

"Sampai saat ini, karena peluangnya masih ada, mafia pangan bekerja dan masih dia berkuasa, walaupun nggak sebanyak yg lalu. Karena itu, kita harus bangun sistem kerja sama dengan petani. Petani jangan sampai dikuasai tengkulak. Petani harus jadi sahabat pemerintah, sahabat Bulog sehingga petani nggak dirugikan, sehingga nantinya kita bisa sajikan kualitas tani dengan baik," katanya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, dikutip Senin (26/10/2020).




Agar petani tidak dirugikan, pemberantasan mafia pangan harus terus dikejar. Pria yang biasa disapa Buwas ini menyebut komunikasi dengan Kepolisian terus terjalin.

"Beberapa yang sudah kita temukan dan kita sampaikan kepada Kepolisian karena yang punya kewenangan untuk pemberantasan penindakan terhadap mafia ini pihak Kepolisian secara khusus. Dan ini sedang ditangani Satgas Pangan dan dari Kepolisian secara khusus ya. Kita menunggu saja nanti dari Kepolisian," sebutnya.



Bukan hanya persoalan mafia pangan, persoalan cuaca juga perlu menjadi perhatian. Diantaranya ancaman La Nina. Buwas mengakui ada beberapa tanaman pangan memang kena dampak La Nina.

"Sudah dari jauh hari kita siapkan stok beras di seluruh wilayah Indonesia. Sampai sekarang kondisi beras yang ada di seluruh Indonesia sesuai kebutuhan sudah kondisi maksimal. Jadi kita punya dalam kondisi cadangan 1 juta lebih. Dan kita lihat antisipasi dengan jumlah itu akan mencukupi sampai prediksi di Januari-Februari tahun depan," kata Buwas.

Ia mengaku ada dampak yang bakal terjadi dari fenomena La Nina. Sehingga perlu antisipasi yang jelas agar dampaknya tidak berkepanjangan. Ia pun mengungkapkan beberapa komoditi yang berpotensi terkena dampak tersebut.

"Kalau dilihat dari data BPS (Badan Pusat Statistik) ada beberapa produk pangan yang mungkin terkena dampak dari La Nina tersebut. Misal padi, jagung mungkin. Tapi stok kita yang sekarang ada pangan lain seperti jagung, yang kita produksi, tepung sagu, tapioka, kentang umbi-umbian disiapkan untuk memperkuat situasi jika dapat ancaman krisisi pangan," paparnya.
Khusus untuk sagu, nampaknya perlakuan bakal khusus. Salah satu pertimbangannya adalah karena kuat dari berbagai cuaca dan hama. Penggunaannya pun belum maksimal dan memiliki potensi untuk dikembangkan.

"Jadi pohon sagu ini aman. Karena nggak ada gangguan cuaca kering maupun cuaca basah, termasuk hama. Sagu bertahan, ini sumber makan kita yang diandalkan ke depan," kata Buwas.

Melihat besarnya potensi dari sagu, Buwas menyebut penggunaannya pun bisa dikembangkan pada banyak hal. Saat ini, banyak yang mengenal sagu hanya untuk papeda, padahal masih banyak penggunaan lainnya. Karena itu, Buwas menyebut bakal membangun 20 titik pabrik sagu dan tapioka khususnya daerah produksi sagu di Papua.

"Kita sebenarnya punya lahan pangan berupa tumbuhan sagu 87% di Indonesia timur khususnya Papua yang belum diolah baik. Dimana ini potensi untuk menjadi pangan tambahan selain beras karena jumlahnya besar. Kita buktikan tepung sagu bisa dibuat mie, beras, bahan dasar kue dan lain-lain," jelasnya.

Asa untuk menjadikan sagu sebagai pangan besar pun terbuka. Total luas lahan kebun sagu di Indonesia, yang didominasi di Papua sangat besar, yakni sekitar 5,5 juta Ha. Sayang, baru 5% saja yang dikelola. Buwas menyebut perlu dukungan pemerintah dan swasta demi mengembangkannya.

"Di beberapa wilayah kita sudah bangun ini dan sudah diwujudkan, yaitu mie sagu salah satunya. Selama ini mie dibuat dari bahan dasar gandum, sementara gandum impor dari luar. Sekarang dibuktikan mie bisa dibuat dari sagu termasuk tapioka, dan kualitas serta rasa nggak kalah," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading