Tak Hanya Dokter, Masyarakat Jadi Ujung Tombak Perangi Corona

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
02 October 2020 13:33
Petugas PPSU Kelurahan Bukit Duri membuat murL bertemakan COVID-19 untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan, karen kasus COVID-19 nasional terus meningkat, Selasa (8/9/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jumlah kasus positif virus corina (Covid-19) di Indonesia terus menambah di angka psikologis 200.000orang per hari ini, ditengah kekhawatiran runah sakit yang makin penuh. 

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) terdapat 3.046 kasus baru Covid-19 pada Selasa (8/9/20) sehingga totalnya menembus 200.035 orang. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku, Sonny Harry B. Harmadi menegaskan bahwa masyarakat menjadi ujung tombak dalam mengatasi pandemi Covid-19.

"Presiden maupun ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 selalu menekankan, kita mengatasi Covid-19 harus dari hulu, menempatkan masyarakat sebagai ujung tombak. Jumlah tenaga kesehatan dan dokter sangat terbatas," ujarnya Kick off Sosialisasi Strategi Perubahan Perilaku secara virtual di Jakarta, Jumat (2/10/2020).

Menurutnya, jika tidak mencegah penularan, jumlah pasien akan semakin banyak dengan kapasitas pelayanan kesehatan yang sangat terbatas. Sehingga ini akan semakin menimbulkan masalah yang banyak.


"Negara seperti AS dan Eropa saja, dengan faskes sangat baik, SDM baik, tidak mudah menghadapi Covid-19. Jadi, jangan dibiarkan dokter kelelahan, nakes kelelahan, tapi harus berusaha mendorong perubahan perilaku masyarakat. Sehingga bisa mencegah penularan," ujarnya.

Perubahan perilaku menjadi salah satu bentuk kampanye bagaimana menerapkan protokol kesehatan, caranya dengan 3M. Yaitu Menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

"3M menjadi pertahanan diri kita untuk menghadapi musuh yang punya karakteristik masuk melalui mulut, hidung dan mata," katanya.

Dia mengatakan, dengan strategi tadi, jika kita semua patuh, maka bisa menekan penularan dalam waktu 3 minggu. "Berbagai penelitian, dalam 3 minggu angka penularan bisa ditekan secara drastis kalau kita mampu mendorong kepatuhan masyarakat terhadap 3 M," pungkasnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menunjukkan bahwa beberapa jurnal internasional menyatakan bahwa #cucitanganpakaisabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Sedangkan #pakaimasker, dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, memakai masker bedah dapat menurunkan risiko penularan sebesar 70%.

Dan yang paling utama, #jagajarakhindarikerumunan minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%. Oleh karena itu masyarakat harus yakin bahwa setiap usaha yang dilakukan saat ini, akan membuahkan hasil.

"Asalkan konsisten dan kolektif melakukan perubahan perilaku menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin dan dilakukan secara sungguh-sungguh," tutup Wiku.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading