Pandemi Covid-19 yang memengaruhi daya beli masyarakat turut berdampak pada perdagangan daging sapi antara Indonesia dan Australia.
Sapi impor dipindahkan ke dalam truk dari kapal Devon Express di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (23/9/2020). Pandemi Covid-19 yang memengaruhi daya beli masyarakat turut berdampak pada perdagangan daging sapi antara Indonesia dan Australia. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership melaporkan ekspor sapi bakalan Australia ke Indonesia turun 15 persen selama Januari—Agustus 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Meski demikian, volume ekspor daging sapi dalam kemasan kotak ke Indonesia selama Januari—Agustus 2020 cenderung tak banyak berubah dibandingkan dengan tahun lalu, yakni dari 27.988 ton menjadi 27.997 ton. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Volume ekspor yang terjaga banyak dipengaruhi oleh larangan pembatalan kontrak yang telah terjalin sejak 2019 meski industri katering dan restoran mengalami penurunan permintaan. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Sejumlah importir Indonesia harus membekukan dagingnya dan menunda penjualan. Meski demikian, permintaan lokal banyak didorong oleh penjualan di supermarket. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Penjualan daging sapi Indonesia juga telah bergeser dari pasar tradisional ke pasar swalayan besar. Pembelian daging sapi daring tercatat meningkat lebih dari 300 persen. Meski terdapat kontraksi dalam perdagangan sapi dari Australia ke Indonesia, Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership melihat adanya peluang peningkatan hubungan bilateral kedua negara, terutama dengan kehadiran Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang mulai aktif pada Juli 2020 dan mengeliminasi berbagai tarif dan persyaratan kuota. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)