Cadangan Migas RI di Dekat Laut China Selatan Bertambah Lagi

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
14 September 2020 19:10
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan cadangan minyak nasional kembali ditemukan di dekat Laut China Selatan, tepatnya di Blok B South Natuna Sea di Kepulauan Riau.

Cadangan minyak ini ditemukan melalui pengeboran sumur eksplorasi Terubuk-5 yang dikerjakan oleh operator blok yakni Medco E&P Natuna Ltd, unit usaha PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih mengatakan keberhasilan dalam menemukan cadangan ini akan meningkatkan cadangan migas di masa mendatang.


"Dari ketiga hasil interval well testing, Sumur Deliniasi Terubuk-5 terbukti mengalirkan hidrokarbon berupa minyak dan gas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/09/2020).

Susana mengatakan dari hasil tes ketiga interval itu diperoleh data antara lain untuk DST#1 sebesar 2.287 barel minyak per hari (bph), DST#2 gas sebesar 19 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), dan DST#3 gas sebesar 13,89 MMSCFD serta 304,1 barel kondensat per hari.

Lebih lanjut dia mengatakan pengeboran ini merupakan salah satu hasil dari aplikasi strategi SKK Migas yaitu percepatan "Resource to Production" yang telah direncanakan. Melalui strategi ini, menurutnya proses temuan cadangan akan didorong agar bisa segera ke tahap produksi. Hal ini tak lain bagian dari upaya merealisasikan target produksi 1 juta bph minyak dan 12.000 MMSCFD gas pada 2030.

"Struktur Terubuk merupakan salah satu undeveloped discovery, di mana potensi migas di area ini pertama kali ditemukan pada 1972 oleh KKKS ConocoPhillips Indonesia. Sudah dilakukan beberapa kali pengeboran sumur appraisal hingga 2000, namun karena dinilai belum ekonomis maka tidak berlanjut ke fase pengembangan lapangan," jelasnya.

Saat ini, menurutnya hasil temuan tersebut sedang dievaluasi SKK Migas untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan lapangan.

"Seperti arahan Bapak Kepala SKK Migas, kita harus mempercepat semua cadangan menjadi produksi," tuturnya.

Sumur deliniasi merupakan sumur yang dibor setelah sumur taruhan (wildcat) yang bertujuan untuk mendapatkan lebih rinci karakteristik reservoir hingga kemungkinan batas keberadaan migas. Temuan ini menunjukkan potensi hulu migas di Indonesia masih prospektif.

SKK Migas menurutnya terus berupaya agar tetap dapat beroperasi dan menemukan cadangan migas meski ada keterbatasan operasional akibat pandemi Covid-19.

Adapun pemegang hak partisipasi di Blok B ini yaitu Medco E&P Natuna Ltd sebesar 40%, lalu Medco Daya Abadi Lestari 35%, dan Prime Natuna Inc 25%. Kontrak masih berlaku hingga 2028.

Seperti diketahui, pada November 2016 lalu Medco Energi telah menuntaskan proses akuisisi ConocoPhillips Indonesia Inc Ltd (CIIL) dan ConocoPhillips Singapore Operations Pte. Ltd. (CSOP), keduanya merupakan anak perusahaan dari ConocoPhillips.

CIIL adalah operator dari PSC South Natuna Sea Block B dengan hak partisipasi sebesar 40% dan juga merupakan operator dari West Natuna Transportation System ("WNTS").

Pada Maret 2017 PT Medco Daya Sentosa, anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham untuk mengakuisisi INPEX Natuna Ltd., anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dari INPEX Corporation yang memegang 35% hak kepemilikan non-operasi di PSC South Natuna Sea Block B.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading