Puluhan jurnalis meninggal dunia karena terjangkit Covid-19 di Peru sejak status pandemi berlaku. Dikutip dari AP News, menurut kelompok jurnalis yang memantau data tersebut, jumlah kematian pekerja media adalah yang tertinggi dilaporkan akibat virus korona baru di Amerika Latin. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Seperti dialami banyak negara, corona menyerang hampir semua sektor dan wilayah di Peru, menewaskan para pekerja medis, guru, pedagang kaki lima, pengangguran, jurnalis, dan lainnya. Tetapi data kematian di kalangan jurnalis di Peru termasuk yang tertinggi di dunia, meskipun sangat sulit memastikan apakah mereka sakit setelah meliput berita pandemi atau melakukan pekerjaan lain. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Pada Rabu, College of Journalists of Lima, melaporkan, seorang pastor Katolik mengadakan misa virtual di sebuah gereja untuk 22 jurnalis, terdiri dari 19 pria dan tiga wanita, yang meninggal di daerah Lima saja. Ricardo Burgos Rojas, dekan di perguruan tinggi, mengatakan banyak dari para jurnalis adalah pekerja lepas dan beberapa bekerja untuk Panamericana Television, TV Peru, Agencia de Noticias Andina, Radio Exitosa dan media lainnya. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Setidaknya 82 wartawan di Peru meninggal karena penyakit corona sejak 16 Maret, ketika Peru memberlakukan penguncian karena krisis kesehatan, sampai 17 Agustus. Banyak jurnalis yang berusia lebih dari 65 tahun, dan beberapa dari mereka yang terdaftar sudah pensiun. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Peru, dengan populasi 33 juta, telah melaporkan lebih dari 26.800 kematian akibat Covid-19, meskipun jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena kesulitan dalam memastikan penyebab banyak kematian. Tercatat ada 560.000 kasus virus korona, menempatkannya di 10 negara teratas - setengahnya di Amerika Latin - dengan kasus paling banyak terkonfirmasi corona di dunia. (AP Photo/Rodrigo Abd)