Sekolah jadi Klaster Baru Covid-19, Ini Penjelasan Satgas

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
13 August 2020 20:25
Sejumlah siswa belajar menggunakan fasilitas wifi gratis di Sanggar Suluk Nusantara di Wilayah Perumahan Depok Mulya 1, Depok, Jawa Barat, Selasa (11/8/2020). Sri Wiwoho pemilik sanggar budaya sekaligus warga yang memprakarsai wifi gratis ini mengungkap Fasilitas wifi itu disediakan sebagai bentuk kepedulian atas kesulitan biaya untuk kebutuhan belajar daring

Jakarta, CNBC Indonesia- Pemerintah mengizinkan kegiatan belajar tatap muka untuk sekolah-sekolah yang berada di zona hijau dan kuning, dengan serangkaian langkah-langkah persiapan. Namun beberapa waktu belakangan ada laporan bahwa penularan di sekolah malah meningkat dan menjadi klaster baru.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan klaster baru ditemukan karena beberapa daerah memiliki kemampuan mencatat kasus dan spesifik di area tertentu terutama di kota besar. Beberapa daerah yang memiliki kemampuan pencatatan dan tes yang lebih baik memiliki catatan klaster dari pemukiman, pasar, tempat ibadah, perkantoran dan baru-baru ini sekolah.

"Sekolah yang dibuka adalah sekolah dari zonasi hijau, dan juga zona kuning tetapi proses pembukaan sekolah tatap muka harus dilakukan secara bertahap, prose prakondisi, timing yang tepat, prioritas yang tepat, dan berkonsultasi antara Satgas daerah dan pusat, serta monitoring evaluasi," kata Wiku, Kamis (13/08/2020).


Selain itu, apabila ada kluster baru di sekolah menurutnya ada proses pembukaan yang belum sempurna. Dalam memulai kegiatan belajar tatap muka, perlu persetujuan orang tua murid, dan harus dipastikan transportasi menuju sekolah sudah memadai sehingga dapat menjaga jarak dengan baik. Begitu juga dari komunitasnya harus dijaga dengan baik sehingga tidak ada penyakit dari rumah dibawa ke sekolah.

"Apabila peningkatan kasus tinggi dan mulai tidak terkendali harus dilakukan pengereman bahkan penghentian dari aktivitas sosial tersebut," kata Wiku.

Wiku menjabarkan selama 30 hari, dari 13 Juli sampai 12 Agustus jumlah kasus aktif di Indonesia cenderung menurun. Satgas mencatat ada 39.290 orang kasus aktif atau 29,85%, dan berada di bawah standar dunia 30,5%. Kasus aktif artinya kasus yang masih dalam perawatan baik di RS ataupun isolasi mandiri.

Jumlah kasus aktif pun jauh berkurang dibandingkan 13 Juli 2020 ketika kasus aktif masih 47,59%, pada 3 Agustus 33,23%, dan pada 12 Agustus 29,85%. Meski kasus aktif menurun, Wiku menegaskan masyarakat tetap harus waspada karena masih bisa meningkat di masa yang akan datang jika lengah dan tidak menjalankan protokol kesehatan.

Saat ini ada 9 kabupaten/kota dengan kasus aktif di atas 1.000 orang, dengan angka paling tinggi Jakarta Pusat sebesar 2.213 orang, kemudian Jakarta Utara 1.775 orang, dan Kota Semarang 1.681 orang. Sementara yang lainnya, kota Makassar 1.511 orang Kota Medan 1.377 orang, Jakarta Selatan 1.309 orang, Jakarta Timur 1.305 orang, Kota Surabaya 1.283 orang, dan Jakarta Barat 1.268 orang.

"Ini terlihat daerah ini adalah daerah perkotaan dengan jumlah penduduk padat, yang perlu jadi perhatian kita semua adalah tidak boleh lengah. Tetap berupaya agar kasus aktif ini bisa ditanggulangi bersama dan menyusul kabupaten kota lainnya yang mampu menurunkan kasus aktifnya, kemudian," kata Wiku.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading