Penumpang menununggu keberangkatan di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Jakarta, Kamis (6/8/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Imbas pandemi Covid-19, terminal itu sepi penumpang. Bila biasanya aktivitas terminal ramai selama 24 jam, semenjak pandemi setiap pukul 22.00 WIB terminal sudah sepi. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi untuk ekonomi nasional kuartal II-2020. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Sektor transportasi dan pergudangan tercatat minus hingga 30,84 persen sepanjang April-Juni 2020. Realisasi itu berbanding terbalik dengan kuartal II 2019 yang tumbuh 5,88 persen. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Selain itu, penurunan sektor transportasi juga terjadi karena kebijakan larangan mudik saat Idul Fitri tahun ini. Kemudian, penurunan aktivitas kargo pada masa pandemi juga mempengaruhi kinerja transportasi. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Detailnya, angkutan rel tercatat minus 63,75 persen, angkutan darat minus 17,65 persen, angkutan laut minus 17,48 persen, angkutan sungai danau dan penyeberangan minus 26,66 persen, angkutan udara minus 80,23 persen, serta pergudangan dan jasa penunjang angkutan minus 38,69 persen. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Kontraksi ini hampir terjadi di seluruh sektor lapangan usaha sepanjang kuartal II 2020. Sektor akomodasi dan makan minum misalnya tercatat minus 22,02 persen. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Secara keseluruhan, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kontraksi ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 sebesar 5,32 persen merupakan yang pertama sejak kuartal I 1999. Saat itu, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 6,13 persen. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)