Atasi Keganasan Covid-19, Dahlan Iskan: Cuma Butuh Rp 120 T

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
11 July 2020 17:00
Dahlan Iskan

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa hari terakhir membuat ketakutan baru. Jumlah kasus covid-19 di Indonesia digadang-gadan bisa melebihi China, episentrum awal penyebaran virus ini.

Pada Rabu (8/7) jumlah penambahan kasi baru covid-19 pecah rekor sebanyak 1.853 kasus. Besok harinya, Kamis (9/7) rekor baru lagi, kembali bertambah menjadi 2.657 kasus.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011-2014, Dahlan Iskan menilai jika kondisi ini terus berlarut maka ekonomi akan kian sulit. Opsi solusi kemudian muncul, kembali ke PSBB? Samanya, juga sulit.


"Masyarakat sudah lelah dengan PSBB yang lalu. Daya tahan masyarakat sudah sangat terbatas. Terutama masyarakat golongan menengah ke bawah. Mereka tidak mungkin tidak keluar rumah: cari penghasilan," tulis Dahlan dalam situs resminya Disway.id

Namun jika masyarakat golongan ke bawah terus beraktivitas dan mengakibatkan penularan tidak terhenti, maka bola ada di tangan Pemerintah. Sebagai pengelola iuran pajak masyarakat, Pemerintah harus lebih sigap dalam kondisi genting saat ini, demikian tulis Dahlan. 

"Kalau kata Presiden Jokowi, tidak boleh bekerja biasa-biasa saja," ujar Dahlan. 

Dahlan melanjutkan, mengingat keadaan makin kritis dan ini sudah berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia, perut. Maka perlu bantuan konkrit yang diberikan. Dahlan menilai Rakyat miskin harus digaji.

"Mungkin jumlah mereka sampai 40 juta rumah tangga. Kalau satu kepala rumah tangga diberi Rp 1 juta/bulan, berarti Rp 40 triliun sebulan. Katakanlah tiga bulan. Hanya Rp 120 triliun," sebut Dahlan.

Berikut tanggapan Dahlan mengenai kasus Covid-19 yang terus melonjak dan solusinya.

Apa yang akan terjadi kalau angka Covid-19 itu naik terus?

Anda pun sudah tahu: secara ekonomi akan kian sulit. Kembali ke PSBB? Juga sulit. Masyarakat sudah lelah dengan PSPB yang lalu. Daya tahan masyarakat sudah sangat terbatas. Terutama masyarakat golongan menengah ke bawah. Mereka tidak mungkin tidak keluar rumah: cari penghasilan.

Itu berbeda dengan golongan menengah ke atas: yang tetap bisa makan meski tidak bekerja.

Satu-satunya cara --agar mereka mau tinggal di rumah-- adalah bantuan sosial. Yang nilai dan tanggalnya pasti.

Itu berarti harus menggunakan dana negara. Rakyat miskin harus digaji. Untuk apa? Agar mau tinggal di rumah. Tidak keluyuran yang bisa tertular Covid-19. Atau menularkan.

Mungkin jumlah mereka sampai 40 juta rumah tangga. Kalau satu kepala rumah tangga diberi Rp 1 juta/bulan, berarti Rp 40 triliun sebulan. Katakanlah tiga bulan. Hanya Rp 120 triliun.

Uang itu tidak hilang. Nilai itu akan berputar di roda perekonomian nasional.

Dalam tiga bulan, mestinya, Covid-19 terkendali.

Kalau tidak, ya harus kita terima: new reality. Penderita akan terus bertambah. Kita bisa menyusul India dan Brazil. Dan memang kelas kita setara dengan dua negara itu. Sama-sama miskin. Sama-sama berpenduduk besar. Sama-sama tidak punya jaminan sosial. Sama-sama kurang disiplin.

Kelas kita, sebenarnya, juga sama dengan Vietnam. Yang bisa hebat.

(Dahlan Iskan)


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading