Warga membawa kulkas keluar dari kantor yang rusak akibat dilanda banjir di kota Hitoyoshi, prefektur Kumamoto, barat daya Jepang, Selasa (7/7/2020). Banjir mengakibatkan sejumlah fasilitas umum dan rumah warga rusak parah. (Yuki Sato/Kyodo News via AP)
Otoritas darurat di Jepang bagian barat tengah 'berpacu dengan waktu' untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak banjir dan tanah longsor. (Kota Endo/Kyodo News via AP)
Badan Meteorologi Jepang (JMA) merilis peringatan level tertinggi untuk hujan deras dan tanah longsor bagi wilayah Pulau Kyushu. (Kota Endo/Kyodo News via AP)
Prakiraan cuaca menunjukkan hujan deras masih akan mengguyur wilayah tersebut hingga Kamis (9/7/2020) mendatang. (Koji Harada/Kyodo News via AP)
Jumlah korban tewas akibat hujan deras yang mulai mengguyur sejak Sabtu (4/7/2020) pagi waktu setempat, diperkirakan akan bertambah. Seorang pejabat di wilayah Kumamoto, wilayah terdampak paling parah, menuturkan bahwa 49 orang dipastikan tewas, dengan satu orang lainnya dikhawatirkan telah meninggal akibat bencana alam ini (Kyodo News via AP)
Lebih dari 40 ribu personel, termasuk polisi dan petugas pemadam juga penjaga pantai dan tentara militer, dikerahkan untuk membantu upaya penyelamatan. Sekitar belasan orang masih belum diketahui keberadaan. (Kota Endo/Kyodo News via AP)
Sungai-sungai yang meluap membuat beberapa jembatan hanyut dan jalanan terendam air. Situasi ini semakin mempersulit upaya penyelamatan, dengan para petugas penyelamat hanya bisa menggunakan perahu karet atau helikopter dalam tugas mereka. (Yuki Sato/Kyodo News via AP)
Bencana alam ini terjadi saat Jepang tengah dalam musim penghujan, yang kerap diwarnai oleh banjir dan tanah longsor. Perubahan iklim juga memainkan peran karena atmosfer yang menghangat menahan lebih banyak air, sehingga meningkatkan risiko dan intensitas banjir akibat hujan deras ekstrem. Tahun 2018, lebih dari 200 orang tewas akibat banjir yang menerjang kawasan yang sama di Jepang. (Takumi Sato/Kyodo News via AP)