Internasional

Gegara Corona, Ekonomi AS Bisa Seburuk saat Great Depression

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
30 March 2020 10:24
Akibat COVID-19, ekonomi Amerika Serikat (AS) disebut bakal kacau seperti saat Depresi Hebat (Great Depression) melanda dulu.

Jakarta, CNBC IndonesiaAmerika Serikat (AS) telah menjadi hot spot baru wabah virus corona (COVID-19), dengan kasus infeksi mencapai 142 ribu lebih per Senin (30/3/2020).

Namun malangnya, bukan hanya cara membendung wabah mematikan itu yang harus dipikirkan negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu. Hal besar lain yang harus diselesaikan AS adalah dampak ekonomi yang dibawa wabah asal Wuhan, China itu.

Itu dikarenakan wabah corona disebut telah membawa ekonomi AS ke dalam keadaan yang hampir mirip dengan saat Depresi Hebat (Great Depression) melanda atau lebih parah daripada resesi.



"Tidak ada definisi spesifik dari depresi," kata Bernard Baumohl, Kepala Ekonom Global Economic Outlook Group sebagaimana dikutip Reuters. "Tapi ini sangat berbeda dari resesi dalam hal panjang dan dalamnya."

Sebelumnya, masa Great Depression yang dimulai dengan jatuhnya pasar saham pada tahun 1929, terus berlangsung hingga tahun 1933. Pada saat itu keadaan ekonomi menjadi kacau akibat melonjaknya angka pengangguran dan anjloknya output ekonomi.

Selama masa Depresi Hebat itu, ada sekitar 20% peningkatan dalam jumlah pengangguran di Amerika Serikat selama tiga tahun. Hal itu terancam terulang kembali sebagai akibat dari mewabahnya virus corona.
 
Bahkan diprediksi bahwa kenaikan angka pengangguran dan penurunan persentase dalam output ekonomi dapat lebih buruk dari yang terjadi pada 1930-an. Di mana akan ada jutaan orang yang dikeluarkan dari pekerjaan dan produk domestik bruto (PDB) turun dua digit.

Namun demikian, saat ini pemerintah AS disebut lebih siap dalam menghadapi ancaman wabah pada ekonomi ketimbang saat Great Depression melanda. Sebab, meski banyak yang mengatakan angka pengangguran telah meroket tajam, pemerintah juga terus menyuntikkan dana bantuan bagi orang-orang dan perusahaan besar dan kecil.

"Stabilisator ini terbukti kuat saat terjadi penurunan di masa lalu," tulis Reuters.

Selain itu, peran bank sentral juga telah lebih baik. Di mana the Federal Reserve disebut telah banyak belajar dari berbagai kegagalan saat Depresi Hebat terjadi.

"Kali ini, seperti pada tahun 2007 (masa Resesi Hebat terjadi), The Fed dan bank sentral global telah bergerak untuk merendam ekonomi dalam bentuk tunai dan membuat program baru untuk mencoba membatasi risiko kegagalan bisnis dan pengangguran yang berkelanjutan."

Namun demikian, menurut sekelompok ekonom dan pembuat kebijakan, AS masih harus memfokuskan diri untuk memperbaiki respons kesehatan masyarakat Amerika. Para pakar kesehatan menilai langkah 'buka tutup' pembatasan di seluruh negara bagian dan Gedung Putih yang lambat dimobilisasi juga dapat membuat dampak virus corona semakin buruk.



"Dorongan Presiden Donald Trump untuk membuka kembali ekonomi dengan cepat membawa risiko. Mengangkat pembatasan penguncian (lockdown) terlalu dini dapat menyebabkan gelombang kedua penyakit," tulis sebuah studi yang diterbitkan minggu ini di Lancet Public Health Journal. Study ini berfokus pada China.

Hal serupa juga menjadi perhatian Gubernur Fed Jerome Powell. Menurut Powell, semakin tinggi jumlah korban virus dan semakin lama wabah berlangsung maka akan semakin banyak kerugian terjadi pada perekonomian.

"Urutan pertama bisnis adalah untuk membendung penyebaran virus dan kemudian melanjutkan kegiatan ekonomi," kata Powell.


[Gambas:Video CNBC]




(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading