Harga Minyak Dunia Anjlok, Sri Mulyani Happy Tapi Sedih Juga

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
09 March 2020 12:12
Menkeu Sri Mulyani menilai penurunan harga minyak di dua sisi, menguntungkan tapi juga mengkhawatirkan
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia merosot signifikan, bahkan mencetak rekor terparah sejak 29 tahun terakhir.

Pantauan terakhir, harga minyak dunia untuk jenis Brent kini berada di level US$ 33,89 per barel, untuk WTI bahkan sudah di bawah US$ 30 per barel. Tentunya ini juga dikhawatirkan akan berdampak ke harga minyak Indonesia, yang per Februari kemarin di level US$ 56,61 per barel.

Terkait penurunan harga minyak dunia ini, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, buka suara. Menurutnya, penurunan harga minyak ini menjadi perhatian serius, meskipun penyebabnya adalah kesepakatan yang gagal antara OPEC dan Rusia untuk teruskan kebijakan memangkas produksi.


"Ini terutama dikaitkan dengan penurunan permintaan karena dengan adanya virus corona dan kemungkinan permintaan dunia yang menurun, menyebabkan harga menurun," ujar Sri Mulyani saat dijumpai di kantornya, Senin (09/3/2020).


Tapi ia melanjutkan, langkah yang diambil Arab Saudi diakui bikin kaget dunia karena negara tersebut memberikan diskon besar-besaran sehingga membuat harga minyak jatuh lebih dalam lagi. "Lalu ini jadi perang harga," kata Sri Mulyani.

Untuk Indonesia sendiri dampak penurunan harga minyak dunia bisa dilihat dari dua sisi, positif sekaligus mengkhawatirkan.

"Di dalam kondisi ekonomi yang sedang tertekan, ini jadi salah satu positif dalam artian menstimulasi dan tidak membebani."

Sementara, dari sisi lainnya adalah memberi ketidakpastian yang lebih besar terhadap pasar saham dan pasar uang.



Jadi meski ada sisi positif, di mana harga energi atau minyak jadi lebih murah dan akan berdampak ke nilai impor Indonesia ada dampak lainnya juga yang dipantau ketat oleh pemerintah.

"Impor minyak kita cukup besar, berarti penurunan harga minyak ini jadi salah satu yang membuat beban Pertamina turun untuk impornya, itu nanti akan terlihat dalam neraca pemerintah."

Tapi, saat impor menurun akan ada konsekuensi di APBN. "Tentunya karena penerimaan minyak akan hadapi harga yang melemah dan volume sedang turun, juga dari sisi nilai tukar," jelasnya.

Meski dari sisi nilai tukar mendekat ke asumsi, tapi dari sisi harga dan produksi migas inilah yang makin lama makin jauh dengan asumsi APBN. "Kita lihat nanti pengaruhnya, terhadap APBN dalam setahun ini, nanti akan sekaligus untuk buat proyeksi 2021."

Sri Mulyani masih enggan berkomentar lebih jauh lagi, soal potensi penerimaan negara yang akan turun dari anjloknya harga minyak dunia. "Saya tidak mau melihatnya sepenggal-sepenggal, satu sisi kita akan formulasikan stimulus ekonomi yang lemah tapi sisi lain kita juga lihat dari penerimaan pasti tertekan harga minyak, kondisi ekonomi melemah, dan lainnya."

[Gambas:Video CNBC]


(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading