Harga Gas Pembangkit US$ 6 per MMBTU, Negara Hemat Rp 18,58 T

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 March 2020 18:51
Harga Gas Pembangkit US$ 6 per MMBTU, Negara Hemat Rp 18,58 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berencana menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6 per MMBTU sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016. Di mana penurunan harga gas ini akan dinikmati oleh tujuh sektor industri.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan jika penurunan harga gas juga diberlakukan untuk pembangkit akan berdampak pada penghematan negara hingga Rp 18,58 triliun, di mana asumsi harga gas tahun ini sebesar US$ 8,39 per MMBTU.

Lebih lanjut dirinya menerangkan, kebijakan penurunan harga gas pembangkit dan manfaatnya bagi negara tahun 2020 sebesar Rp 18,58 triliun, kehilangan pendapatan Rp 14,07 triliun, sehingga manfaat negara yang didapatkan Rp 4,51 triliun.


"Kalau diturunkan menjadi US$ 6 per MMBTU, ya berarti kan 2,39 kali volume. Savingnya jadi Rp 18,58 triliun, datang dari subsidi Rp 4,38 triliun, dari kompensasi Rp 14,2 triliun, kan belanja negara dua," ungkapnya di kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/3/2020).

Rida menerangkan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik tahun 2020 sebesar Rp 359,03 triliun, untuk beli bahan bakarnya sebesar Rp 146, 67 triliun atau 41%. Bahan bakar ini terdiri dari EBT, batu bara, gas, dan BBM. Biaya bahan bakar 38,36% nya digunakan untuk gas.

Sementara gas hanya berkontribusi sebesar 21,82% dari total volume penyediaan listrik. Sehingga penurunan harga gas akan sangat berpengaruh pada BPP yang berujung pada pengurangan beban APBN.

"Tapi ini kan dijadikan listrik kecil, kebanyakan volumenya itu batu bara. Makanya kalau diubah harganya akan sangat membantu PLN. Modalnya gede, tapi generated-nya kecil. Kayak BBM, Rp 24,17 triliun, tapi yang generated cuman 11,81 TWh," imbuhnya.



Rida menerangkan, total penghematan ini berlaku untuk semua pembangkit, tidak hanya 52 pembangkit yang dikonversikan dari solar ke gas. Konversi 52 pembangkit ini, imbuhnya, adalah bisnis jika diintervensi dengan harga gas US$ 6 per MMBTU akan lebih baik lagi.

"Di antara 52 juga sudah ada yang di bawah US$ 6, ada beberapa itu udah jalan juga. Tapi kalau misalkan tahun depan yang 52 sama-sama US$ 6, sukses itu, double hit," jelasnya.

PT PLN (Persero) akan mengkonversi 52 pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) ke gas. Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini menerangkan, dari sisi PLN, pihaknya mengubah biaya operasional (opex) yang tadinya dalam bentuk BBM menjadi bentuk gas. Akan terjadi penurunan opex yang tadinya Rp 16 triliun per tahun menjadi Rp 12 triliun per tahun.

"Dari sisi PLN hemat Rp 4 triliun karena mengubah dari BBM jadi gas," ungkapnya, Kamis, (27/02/2020) di kantor Kementerian ESDM.

[Gambas:Video CNBC]




(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading