Anti-Poaching Special Squad via AP,
CNBC Indonesia
26 January 2020 11:16
Wabah virus baru yang diduga berasal dari pasar satwa liar di China membuat penegakan hukum setempat untuk bertindak tegas.
Foto yang diambil pada 17 Januari oleh Pasukan Khusus Anti Perburuan Satwa Liar China, menyita barang dagangan satwa liar berupa Ular dan satwa lainnya di kota Anji di Provinsi Zheijiang, Cina Timur. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
Wabah virus baru yang diduga berasal dari pasar satwa liar di China membuat penegakan hukum setempat bertindak tegas. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
China melarang perdagangan sejumlah spesies liar atau memerlukan lisensi khusus. Hanya saja peraturannya cukup longgar untuk beberapa spesies jika dibudidayakan secara komersial. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
Banyak spesies eksotis yang masih dikonsumsi warga China atau negara-negara Asia lainnya di mana mereka dianggap sebagai makanan lezat seperti musang atau tikus untuk manfaat kesehatan padalah secara ilmu pengetahuan tidak terbukti. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
Kelelawar diduga telah melahirkan virus SARS, yang pada 2002-2003 membunuh ratusan orang di Asia, kebanyakan warga China. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
Selain menimbukan ancaman kesehatan yang serius, penjualan satwa liar di Asia, terutama China juga mempercepat kepunahan banyak spresies. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)
Salah satu langkah pertama yang diambil oleh otoritas Wuhan adalah menutup Pasar Grosir Makanan Laut Huanan, tempat 41 kasus pertama berasal. (Dok. Pasukan Khusus Anti Perburuan via AP)