(CNBC Indonesia/Andrean Kristianto),
CNBC Indonesia
22 January 2020 08:21
Air di kali Kanal Banjir Timur (KBT) Marunda, Jakarta Utara, berbusa. Busa tebal menyelimuti aliran air di kali KBT setelah Pintu Air Weir 3, Marunda, (22/1/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menegaskan lautan busa berasal dari limbah rumah tangga. Busa tersebut dinyatakan bukan dari limbah pabrik. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
"Kami sudah melihat di Marunda. Kalau saya lihat di Google Earth maupun data yang ada di kami tentang amdal, kita tidak menemukan industri, katakanlah pabrik detergen," kata Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih kepada media. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Slamet Riyadi mengatakan limbah busa tidak membahayakan. Limbah itu masih dalam batas aman. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
"Sampai saat ini masih dalam ambang batas (aman), dalam artian sungai di Jakarta kan sebagian besar memang tercemar. Tapi tercemar dalam artian karena buangan dari limbah rumah tangga memang dibuang langsung ke sungai. Kalau pas dipompa, pasti timbul busa," katanya. Agar 'lautan' busa tidak terulang, Slamet mengimbau masyarakat tidak membuang limbah ke kali. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Terlihat juga beberapa warga tengah asyik memancing di dekat pintu air Weir 3 Marunda. Mereka kebanyakan memancing menggunakan jala. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Petugas Pintu Air Weir 3 Marunda Tarya mengatakan, busa-busa tersebut muncul akibat limpasan di pintu air tersebut. Busa-busa di KBT Marunda itu sudah menjadi pemandangan warga sehari-hari. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kemunculan busa tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya beda tinggi antara muka air di KBT Marunda dan muara laut serta limbah detergen masyarakat. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)