Raih Laba Bersih Rp 10,8 T, Aset PLN Melesat jadi Rp 1.549 T

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 December 2019 18:09
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencatatkan penjualan listrik senilai Rp 202,7 triliun pada kuartal III-2019.
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencatatkan penjualan listrik senilai Rp 202,7 triliun pada kuartal III-2019, meningkat 4,5% dibandingkan periode yang sama 2018 senilai Rp 194,4 triliun.

Peningkatan pendapatan ini pun turut meningkatkan pendapatan usaha 4,5% menjadi Rp 209,3 triliun, dibandingkan kuartal III-2019 senilai Rp 200,9 triliun.

Dengan begitu, PLN pun membukukan laba sebesar Rp 10,84 triliun pada kuartal III-2019, jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu dimana perusahaan mencatat rugi rugi Rp 18,46 triliun akibat perubahan kurs.


Perusahaan juga mencatat peningkatan aset senilai Rp 1.549 triliun, naik dibandingkan periode yang sama 2018 senilai Rp Rp 1.366,42 triliun.


Perbandingan tambahan pinjaman pun cukup rendah terhadap tambahan belanja modal (capex). Hingga kuartal III-2019 tambahan pinjaman tercatat Rp 39,8 triliun, dan tambahan capex senilai Rp 67,4 triliun.

Sementara dari sisi beban usaha, sebenarnya beban PLN juga naik dari semula Rp 224 triliun di 2018 menjadi Rp 231,90 triliun di periode serupa tahun ini. Hingga kuartal III-2019 PLN mencatat subsidi listrik pemerintah senilai Rp 40,64 triliun, dan pendapatan kompensasi Rp 19,74 triliun. Dana kompensasi ini diberikan oleh pemerintah kepada PLN sebagai penggantian tidak terdapatnya kenaikan tarif listrik hingga saat ini

Seiring dengan peningkatan pendapatan perusahaan dari penjualan tenaga listrik, penyambungan pelanggan, dan yang lainnya, pelayanan PLN dinilai semakin membaik dari tahun ke tahun. Hal ini ditunjukan oleh Survei Ease of Doing Business oleh Bank Dunia, dimana daya saing industri naik ke peringkat 33 tahun ini, karena adanya kemudahan mendapatkan listrik.

Jika dibandingkan dengan tarif listrik di beberapa negara ASEAN pun Indonesia masih lebih rendah. PLN mencatat tarif listrik industri besar di Indonesia yakni Rp 997/kwh, lebih rendah dibandingkan Vietnam Rp 1.034 per kwh, Thailand Rp 1.077/kwh, Singapura Rp 1.657/kwh dan Filipina Rp 1.347/kwh.

Sementara untuk industri menengah tarif listrik di Indonesia pun hanya Rp 1.115/kwh, lebih murah ketimbang Singapura Rp 1.703/kwh dan Filipina Rp 1.355/kwh.

Untuk meningkatkan kualitas layanannya pun PLN berupaya meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 99% hingga akhir 2019, dan hingga Oktober rasio elektrifikasi telah mencapai 98,86%. Perusahaan listrik pelat merah ini pun terus melakukan pembangunan proyek 35.000 MW.

Bahkan baru-baru ini PLN mendapatkan kucuran kredit sindikasi dari 8 bank asing senilai 1 miliar US$ atau sekitar Rp 14 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$.

Dana dari kucuran kredit sindikasi ini akan dipakai untuk menyelesaikan proyek setrum 35.000 megawatt dan membangun jaringan transmisi baru di tahun depan.

Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani membenarkan, delapan bank asing mengucurkan kredit PLN, yaitu DBS Group, Korea Development Bank, MUFG Financial Group, Oversea-Chinese banking Corp, Sumitomo Mitsui Financial, United Overseas Bank, Bank of China dan Cathay United Bank. Masing-masing bank mengucurkan kredit senilai 128 juta US$ atau setara Rp 1,79 triliun.

"Kalau dilihat dari 35.000 megawatt, sebanyak 23.000 megawatt sudah konstruksi," tutur Sripeni di Jakarta, Selasa (12/11/2019).


PLN didorong untuk membangun jaringan transmisi baru di wilayah interkoneksi Jawa-Bali, hal ini dilakukan untuk mencegah kembali terulangnya padam listrik massal se-Jawa Bali.

"Di tahun 2020 kami fokus untuk [pinjaman] yang baru ini adalah untuk transmisi. Karena yang pembangkit sudah tinggal melanjutkan. Transmisi ini kami fokus supaya bisa menyambung karena pembangkit sudah ada yang jadi," kata Sripeni.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading