Asik! Gross Split Kagak Wajib Bagi KKKS Tapi Ada Syaratnya

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
29 November 2019 16:47
ESDM mempertimbangkan investor bisa memilih skema kontrak bagi hasil migas (production sharing contract/PSC).
Jakarta, CNBC Indonesia - Demi menarik investasi di hulu migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertimbangkan cara baru agar investor bisa memilih skema kontrak bagi hasil migas (production sharing contract/PSC).

Bukan hanya skema gross split yang selama ini menjadi kewajiban bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang bisa dipakai tetapi juga skema cost recovery.


Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas ESDM Djoko Siswanto opsi PSC ini akan diberikan pada investor yang serius dan memiliki dana.


"Pak Menteri (Arifin Tasrif) mendengar investor yang benar-benar serius mau melakukan investasi. Tentunya investor yang punya dana untuk investasi, secara equity bukan investor yang bermodal kertas," ungkapnya saat dihubungi, Jumat (29/11/2019).

Skema gross split memungkinkan penetapan bagi hasil ditetapkan di awal setelah berproduksi dengan hitungan 57 (negara) :43 (kontraktor) untuk minyak dan 52:48 untuk gas.

Sedangkan cost recovery, merupakan penetapan bagi hasil setelah dikurangi, First Tranche Petroleum (FTP) dan pengembalian biaya operasi (cost recovery) kepada KKKS. Hitungannya 85:15 untuk minyak dan 70:30 untuk gas.

Gross split tidak meminta adanya keterlibatan pemerintah dalam biaya operasional KKKS. Sedangkan cost recovery memungkinkan itu melalui work program and budgeting (WP&B) SKK Migas.

Gross split mempertimbangkan faktor eksternal sesuai keekonomian lapangan migas. Sementara cost recovery tidak.


Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Indonesia (IPA) Marjolijn Wajong mengatakan dua jenis kontrak ini sama-sama baik.

"Tergantung dari profile investasinya di migas. Jadi memberikan flexibilitas kontrak yang sesuai akan sangat baik," terangnya saat dihubungi, Kamis, (28/11/2019).

Saat ini, skema gross split masih diwajibkan oleh pemerintah. Ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 52 Tahun 2017.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif memaparkan ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII, Rabu, (27/11/2019).

"Kami melakukan dialog dengan para investor di bidang Migas. Kami tanyakan mana yang prefer, ada dua," ungkapnya.

Menurut Arifin masing-masing skema ini punya nilai plus minus. Dirinya menerangkan ada investor yang suka dengan skema gross split dan cost recovery.

Misalnya bagi yang baru akan melakukan eksplorasi di wilayah kerja baru biasanya tertarik dengan cost recovery karena berisiko tinggi.

Sementara investor yang memilih dengan gross split karena ada kepastian investasi sejak awal.

"Cost recovery juga ada satu keluhan, tiap tahun perlu review dan prosesnya lama. Kalau gross split kan mereka senang terutama existing field, karena sumbernya sudah jelas, potensi jelas, risknya kurang," jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading