Target Energi Baru & Hijau RI Pasti Tak Sampai, Ini Sebabnya

News - ags, CNBC Indonesia
08 September 2019 09:54
Pesimisme METI melihat pertumbuhan energi baru dan terbarukan (EBT) kian mendapat justifikasi. Kali ini, dari Moody's Investors Service.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesimisme Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) melihat pertumbuhan energi baru dan terbarukan (EBT) kian mendapat justifikasi. Kali ini, Moody's Investors Service sebarisan dengan METI.

Perusahaan pemeringkat global tersebut menilai target capaian EBT sebesar 23% dari porsi bauran energi pada tahun 2025 bakal sulit dicapai, dari posisi sekarang yang baru sebesar 12%. Batu bara diprediksi masih akan mendominasi hingga 5-7 tahun ke depan.

"Kerangka peraturan dan kebijakan yang saat ini terus berubah akan mempersulit Indonesia mencapai target energi terbarukan secara tepat waktu, dan kami memprediksi perubahan bauran energi akan terjadi secara gradual," tutur Moody's Vice President and Senior Analyst Abhishek Tyagi, dalam laporan risetnya.


Pemerintah Indonesia menargetkan kapasitas tambahan pembangkitan listrik sebesar 50,4 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan, dengan batu bara masih menjadi sumber utama.

Di luar angin perubahan kebijakan EBT yang begitu kencang, Moody's menilai investor energi terbarukan-terutama di pembangkit listrik tenaga bayu dan tenaga matahari-terkendala biaya yang lebih tinggi dibandingkan pembangkit listrik batu bara yang terus menikmati subsidi.

Ketiadaan jaringan listrik yang kuat di banyak pulau Indonesia juga mempersulit masuknya investor untuk menggarap proyek skala besar karena skala ekonominya akan sulit dicapai karena biaya investasi yang mahal.

Belum lagi jika melihat tingkat utilisasi proyek berbasis batu bara yang cenderung menurun dan menciptakan kelebihan pasokan listrik, sehingga membuat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) cenderung memilih "menunda" pembangkit listrik berbasis EBT yang ongkosnya kalah bersaing karena tak disubsidi.

"Kebanyakan pembangkit listrik energi terbarukan Indonesia juga terpusat pada panas bumi dan air, yang memerlukan waktu pengembangan awal yang lebih lama dibandingkan dengan proyek berbasis angin dan matahari," ujar Tyagi.

Karenanya, Moody's menilai memperkirakan tidak akan ada kebijakan radikal yang bakal memangkas pemakaian batu bara di Indonesia dalam jangka menengah. Hanya saja, pembiayaan proyek batu bara bakal menghadapi tantangan karena institusi keuangan dan perbankan mulai mengurangi eksposur pembiayaan ke proyek berbasis energi fosil tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Mimpi Indonesia Kembangkan EBT


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading