Laba Pertamina Meroket 120% di Semester I-2019, Serius?
Anastasia Arvirianty,
CNBC Indonesia
08 August 2019 08:12
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) mengklaim dapat membukukan lonjakan perolehan laba bersih sebesar 120% secara year on year pada semester I-2019.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury kepada wartawan seusai menghadiri pelantikan Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia di Gedung Mahkamah Agung, Rabu (7/8/2019).


Dihubungi terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, pertumbuhan laba tersebut didorong oleh perbaikan biaya.
"Karena adanya penurunan harga minyak mentah/ICP," kata Fajriyah saat dihubungi, Rabu (7/8/2019).


Memang, berdasarkan catatan CNBC Indonesia, selama semester pertama tahun ini, rata-rata ICP tercatat sebesar US$ 63,14 per barel. Jika dibandingkan, pada semester pertama tahun lalu, tercatat lebih tinggi, yakni besaran rata-rata ICP mencapai US$ 66,56 per barel.


Adapun, pada 2018, Pertamina membukukan laba US$ 2,53 miliar atau setara Rp 35,99 triliun. Sedangkan untuk laba semester I-2018, perusahaan migas pelat merah itu tidak menyampaikan kepada publik.

Jika diurutkan sejak 2015, pendapatan Pertamina hanya mencapai US$ 45,24 miliar dengan realisasi laba bersih US$ 1,41 miliar. Tapi kemudian anjlok di tahun 2016 karena pendapatan hanya mencapai US$ 39,81 miliar dengan laba bersih US$ 3,15 miliar.
Akan tetapi pendapatan perseroan kembali merangkak naik di 2017 mencapai US$ 46 miliar, namun laba bersih hanya mencapai US$ 2,41 miliar.
Di sisi lain, Pahala sempat menyebutkan, sepanjang kuartal I-2019, Pertamina memperoleh laba US$ 677 juta atau setara Rp 9,59 triliun. Penyebab utama di balik penurunan itu adalah rata-rata ICP yang tidak sebaik kuartal sebelumnya pula.

"Karena dari sisi sensitivitas yang memengaruhi profitabilitas kami itu dari harga ICP," ujar Pahala ketika itu.
[Gambas:Video CNBC] (miq/miq) Add
as a preferred
source on Google
Next Article
Pastikan Pasokan Aman Saat Ramadan, Pahala Cek SPBU Jatim
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury kepada wartawan seusai menghadiri pelantikan Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia di Gedung Mahkamah Agung, Rabu (7/8/2019).


Dihubungi terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, pertumbuhan laba tersebut didorong oleh perbaikan biaya.
"Karena adanya penurunan harga minyak mentah/ICP," kata Fajriyah saat dihubungi, Rabu (7/8/2019).


Memang, berdasarkan catatan CNBC Indonesia, selama semester pertama tahun ini, rata-rata ICP tercatat sebesar US$ 63,14 per barel. Jika dibandingkan, pada semester pertama tahun lalu, tercatat lebih tinggi, yakni besaran rata-rata ICP mencapai US$ 66,56 per barel.


Adapun, pada 2018, Pertamina membukukan laba US$ 2,53 miliar atau setara Rp 35,99 triliun. Sedangkan untuk laba semester I-2018, perusahaan migas pelat merah itu tidak menyampaikan kepada publik.

Jika diurutkan sejak 2015, pendapatan Pertamina hanya mencapai US$ 45,24 miliar dengan realisasi laba bersih US$ 1,41 miliar. Tapi kemudian anjlok di tahun 2016 karena pendapatan hanya mencapai US$ 39,81 miliar dengan laba bersih US$ 3,15 miliar.
Akan tetapi pendapatan perseroan kembali merangkak naik di 2017 mencapai US$ 46 miliar, namun laba bersih hanya mencapai US$ 2,41 miliar.
Di sisi lain, Pahala sempat menyebutkan, sepanjang kuartal I-2019, Pertamina memperoleh laba US$ 677 juta atau setara Rp 9,59 triliun. Penyebab utama di balik penurunan itu adalah rata-rata ICP yang tidak sebaik kuartal sebelumnya pula.

"Karena dari sisi sensitivitas yang memengaruhi profitabilitas kami itu dari harga ICP," ujar Pahala ketika itu.
[Gambas:Video CNBC] (miq/miq) Add
source on Google