Sebuah kapal tanker minyak terbakar di laut Oman, Kamis, (3/6/2019). Dua kapal tanker minyak (Front Altair milik Norwegia dan Kokuka Courageous milik Jepang) mengalami kerusakan yang cukup berat setelah mengalami ledakan ketika berlayar di dekat Selat Hormuz. (AP / ISNA)
Selat itu adalah jalur pengiriman minyak lewat laut tersibuk di dunia. (AP/ISNA)
Kokuka Courageous, sebuah kapal tanker kimia yang dimuat di Arab Saudi dan sedang dalam perjalanan ke Singapura, terbakar pada saat yang sama dengan tanker Front Altair sebelum jam 6:00 pagi waktu setempat. (AP/Tasnim News Agency)
Front Altair membawa muatan 75 ton nafta -- sulingan minyak bumi yang mengandung hidrokarbon cair yang mudah terbakar. Nafta atau Naptha biasa digunakan sebagai pelarut dan bahan bakar. (Frontline/NTB Scanpix/via REUTERS_
Para kru terpaksa meninggalkan kapal dan membiarkannya terapung di perairan antara Teluk Arab dan Iran itu. (NAVY/MASS COMMUNICATION SPECIALIST 3RD CLASS JASON WAITE/via REUTERS)
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menuduh Iran sebagai dalang serangan terhadap dua kapal tanker minyak tersebut. "Iran menyerang karena rezimnya ingin tekanan maksimum dari AS yang sukses dicabut," kata Pompeo tanpa mengungkapkan bukti-bukti mengapa Teheran bertanggung jawab atas serangan itu. (AP/Alex Brandon)