PLTA Lamajan merupakan salah satu sub Unit Pembangkit (UP) Saguling yang dikelola oleh PT Indonesia Power, anak usaha PT PLN (Persero). UP Saguling yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 797,36 MW ini ditopang oleh tujuh sub unit pembangkit. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Ketujuh sub unit pembangkit tersebut antara lain PLTA Bengkok dan Dago 3,85 MW , PLTA Plengan 6,87 MW, PLTA Lamajan 19,56 MW, PLTA Cikalong 19,20 MW, PLTA Ubrug 18,36 MW, PLTA Karacak 18,90 MW, dan PLTA Parakan Kondang 9,90 MW. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
PLTA Lamajan sendiri menarik untuk diceritakan. Salah satu PLTA peninggalan jaman Belanda ini mulai dibangun pada 1924 dan resmi beroperasi setahun kemudian.(CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
PLTA Lamajan ditopang oleh tiga unit generator pembangkit yang berkapasitas total 19,56 MW. Unit 1 dan 2 dibangun pada tahun 1924 sedangkan unit 3 pada tahun 1933 dan mulai beroperasi tahun 1934. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Awalnya PLTA Lamajan dibangun untuk melistriki pabrik gula di Jawa Barat. Namun, seiring dengan kemerdekaan Indonesia dan PLTA tersebut diambil alih oleh negara, maka fungsi dari PLTA Lamajan juga mengalami perubahan. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Untuk menuju Power House yang letaknya curam, dibutuhkan lori khusus. Untuk menuju pemberhentian lori bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 500 meter dari gedung kantor. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Lori ini istimewa. Seperti dokar mini berwarna oranye terang, lori ini ditarik menggunakan tali baja untuk pengoperasiannya. Meski kecil, lori ini bisa mengangkut beban maksimal hingga 2 ton. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Generator-generator tersebut, memperoleh pasokan air dari pipa berwarna kuning terang yang disebut “Pipa Pesat”. Terdapat dua buah pipa besar yang menjulang tinggi mencapai 200 meter. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)