Gegara Bantuan Kemanusiaan, Situasi Venezuela Semakin Memanas

News - Linda Sari Hasibuan, CNBC Indonesia
24 February 2019 10:50
Gegara Bantuan Kemanusiaan, Situasi Venezuela Semakin Memanas
Caracas, CNBC Indonesia - Situasi dan kondisi di Venezuela semakin memanas. Pemicu utama adalah keputusan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro mengadang bantuan kemanusiaan yang mayoritas berasal dari Amerika Serikat (AS).

AFP melaporkan, dua orang, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 14 tahun, tewas dalam bentrokan antara massa anti Maduro alias pendukung pemimpin oposisi Juan Guaido dengan pasukan keamanan pemerintahan Maduro.

Via akun Twitter resmi seperti dikutip pada Minggu (24/2/2019), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan AS akan mengambil tindakan tegas. Ia pun mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh premanisme Maduro.


Perkembangan negatif di Venezuela seolah menunjukkan bahwa krisis ekonomi yang dilanjutkan krisis politik belum akan berakhir. Kini yang hadir adalah krisis kemanusiaan yang dipicu resesi berkepanjangan dan hiperinflasi.



Bentrokan
Sejak subuh, pengunjuk rasa di kota perbatasan Urena dan San Antonio diadang oleh Militer Venezuela yang menembakkan gas air mata dan peluru karet. Suara tembakan dapat terdengar di jalan-jalan Urena selama jam-jam kerusuhan.

Pejabat pertahanan sipil di Kolombia mengatakan sedikitnya 285 orang terluka dalam bentrokan di penyeberangan jembatan perbatasan. Kolombia juga memerintahkan truk bantuan untuk kembali dari perbatasan setelah terjadi kekerasan.

Sebagian besar adalah warga negara Venezuela yang berusaha menyeberang dengan paket bantuan ketika mereka didesak kembali oleh pasukan Venezuela.

Tetapi insiden paling serius datang ratusan mil jauhnya, di titik persimpangan Santa Elena de Uairen, di perbatasan selatan dengan Brasil di mana pembunuhan terjadi.

31 orang lainnya cedera ketika pasukan yang menghalangi masuknya bantuan menembaki warga sipil yang berharap mendapatkan bantuan. Demikian laporan kelompok hak asasi manusia Foro Penal.




"Mereka membantai orang-orang Venezuela di Santa Elena de Uairen dan San Antonio, di mana sejak pukul tujuh pagi mereka tidak mengizinkan orang-orang Venezuela berkumpul untuk membawa bantuan kemanusiaan," kata Guaido kepada wartawan di Cucuta, Kolombia, di mana dia mengoordinasikan operasi bantuan.


Pendukung Maduro berhenti dan membakar dua truk penuh dengan bantuan yang didorong melalui barikade di jembatan perbatasan.

"Orang-orang menyelamatkan sebagian besar dari apa yang ada di truk pertama dan menjaga bantuan kemanusiaan yang diperintahkan Maduro sang diktator dibakar," kata anggota parlemen oposisi Gaby Arellano kepada wartawan.

Dua truk lain yang membawa bantuan yang dikirim oleh Brasil ke Venezuela kembali ke kota Paracaima di Brasil. Ini setelah pasukan Venezuela melarang mereka menyeberang selama beberapa jam.

Antara Guaido dan Maduro
Guaido sang pemimpin oposisi secara resmi meluncurkan operasi distribusi yang telah lama direncanakan di sebuah gudang di jembatan perbatasan Tienditas di Cucuta. Turut bergabung presiden Chili, Kolombia dan Paraguay.

"Bantuan kemanusiaan jelas menuju ke Venezuela dengan cara damai dan tenang untuk menyelamatkan nyawa saat ini," kata Guaido.

Tak lama setelah itu, dia mengklaim pengiriman pertama telah mencapai Venezuela untuk menentang blokade Maduro. Namun, truk yang ia maksudkan tetap tertahan di perbatasan Brasil beberapa jam kemudian. Guaido telah bersumpah bantuan kemanusiaan akan memasuki Venezuela meskipun ada blokade.

Gegara Bantuan Kemanusiaan, Situasi Venezuela Semakin MemanasFoto: REUTERS/Jim Young

 
Pemimpin sosialis Maduro telah menolak bantuan itu. Ia menyebut bantuan hanya dalih untuk invasi AS.

Marah dengan dukungan Kolombia untuk Guaido, Maduro mengumumkan Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Bogota, dan memberi para diplomat Kolombia 24 jam untuk meninggalkan negara itu.

"Saya tidak akan pernah tunduk, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan selalu membela negara kami dengan nyawa saya sendiri jika perlu," kata Maduro pada rapat umum pendukungnya di ibu kota Caracas.

Gegara Bantuan Kemanusiaan, Situasi Venezuela Semakin MemanasFoto: Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Palace/Handout via REUTERS)


Sebanyak 300.000 warga Venezuela sangat membutuhkan makanan dan obat-obatan setelah bertahun-tahun kekurangan dan kekurangan gizi, menurut Guaido, yang menuduh Maduro berlaku curang dalam pemilu lalu.


Angka-angka PBB menunjukkan bahwa sekitar 2,7 juta orang telah meninggalkan Venezuela sejak 2015. Kemudian sekitar 5.000 warga Venezuela beremigrasi dari negara mereka setiap hari.

Simak video terkait rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading