Pekerja menjemur ratusan kertas kuning yang akan diproduksi untuk ritual perayaan tahun baru Imlek di Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, Jumat (18/1). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jelang tahun baru Imlek, pabrik rumahan ini dapat memproduksi kertas kuning sebanyak 3 rim dalam sehari. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di pabrik rumahan ini, terdapat 10 pegawai yang mempunyai perannya masing, mulai dari percetakan lilin hingga pengepakan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Begitu memasuki dalam pabrik, wangi menyengat datang saat para pekerja melakukan pencetakan lilin yang seukuran sekitar 30cm. Setelah dicetak, lilin direndam dengan bahan pewarna merah sebelum tahap akhir pengamasan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di lokasi yang berbeda, terdapat pembuatan hio yang terletak di Cengklong, Kosambi, Tangerang, Banten. Terlihat sejumlah pegawai menata hio yang sedang dikeringkan. Cara membuat hio bisa dari bubuk gergaji dan tepung serta alusan kayu jati yang diaduk-aduk hingga merata. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di pabrik rumahan itu, terdapat berbagai ukuran dari hio mulai dari 50 cm hingga 2 meter. Dalam sehari pekerja mampu memproduksi 200 batang hio ukuran 2 meter, dan 5 peti ukuran 50cm. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Hio atau dupa dipercaya warga keturunan Tionghoa sebagai penghubung atau pengantar agar doa mereka bisa sampai kepada Sang Pencipta. Doa semakin didengar bila hio harum baunya. Jadi tak heran, aroma hio macam-macam. Ada yang menggunakan kayu cendana atau juga gaharu. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)