Mark Duffy, Jessica Taylor, House of Commons via AP dan Reuters,
CNBC Indonesia
16 January 2019 15:12
Perdana Menteri Inggris Theresa May mengalami kekalahan telak dalam pemungutan suara yang menentukan nasib perjanjian Brexit
Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara di hadapan anggota parlemen menjelang pemungutan suara mengenai kesepakatan Brexit pemerintah di London, Selasa (15/1/2019) malam waktu setempat. (Mark Duffy, House of Commons via AP)
May mengalami kekalahan telak dalam pemungutan suara yang menentukan nasib perjanjian Brexit yang ia ajukan ke parlemen. Kekalahannya ini merupakan kekalahan pemerintah yang terbesar dalam sejarah politik Inggris. (Mark Duffy, House of Commons via AP)
Kesepakatan yang diajukan May dipandang banyak pihak menyimpang dari cita-cita Brexit karena mengurangi pengaruh Inggris di blok tersebut sementara masih tetap mematuhi berbagai aturan UE. (Jessica Taylor, House of Commons via AP)
Mereka yang menolak Brexit juga keberatan dengan rancangan tersebut karena dianggap akan menurunkan kemudahan Inggris berdagang dengan dunia internasional, mencegah bakat-bakat global masuk ke Inggris, dan menaikkan biaya hidup. (Mark Duffy, House of Commons via AP)
Theresa May mengalami kekalahan hingga 230 suara setelah 432 anggota dewan menolak rancangannya sementara hanya 202 yang mendukungnya. (REUTERS/John Sibley)
Di luar gedung parlemen sejumlah pendukung dan yang menolak Brexit berdemo saat pemungutan suara mengenai kesepakatan Brexit tersebut. (REUTERS/Eddie Keogh)