Seorang wanita bersama anaknya berpegangan tangan ketika mereka berjalan di jalan di kota Tasiilaq, Greenland. Terletak di antara puncak es dan tersusun di perairan laut yang beku, kota kecil Tasiilaq di tenggara Greenland adalah rumah bagi sekitar 2.000 orang. (REUTERS/Lucas Jackson)
Rumah-rumah kayu yang berwarna-warni memenuhi lanskap sub-Arktik yang dihancurkan oleh salah satu iklim paling terburuk di planet ini. (REUTERS/Lucas Jackson)
Tetapi pemanasan global membentuk kembali pulau terbesar di dunia itu, menyebabkan lapisan es mencair lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, menurut penelitian terbaru. (REUTERS/Lucas Jackson)
Pemanasan global yang berkelanjutan akan mempercepat pencairan lapisan es dan berkontribusi pada naiknya permukaan laut di seluruh dunia, demikian temuan para ilmuwan. (REUTERS/Lucas Jackson)
Sebuah laporan PBB yang dirilis pada bulan Oktober mendesak negara-negara untuk membatasi peningkatan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri untuk meminimalkan kenaikan permukaan laut global, mengurangi banjir dan dampak keseluruhan pada ekosistem dunia. (REUTERS/Lucas Jackson)
Naiknya permukaan laut dikhawatirkan dapat menenggelamkan kota Tasiilaq dan kota-kota lain yang berada dekat kutub. (REUTERS/Lucas Jackson)
Survei pertama yang dilakukan pada bulan Desember oleh Universitas Kopenhagen, Universitas Greenland, dan Institut Penelitian Ekonomi Urban Kraks berusaha melukiskan gambaran tentang bagaimana penduduk Greenland melihat perubahan iklim. (REUTERS/Lucas Jackson)
Studi ini menemukan bahwa lebih dari empat dari 10 penduduk percaya bahwa perubahan iklim akan membahayakan mereka, sementara hanya satu dari 10 penduduk yang berpikir mereka akan mendapat manfaat darinya. (REUTERS/Lucas Jackson)