Sejak 2006, pemerintah telah membelanjakan 152,9 triliun won ($ 135,65 miliar) untuk tunjangan keluarga dan subsidi bagi anak-anak
Kim Mi-sung memeriksa pekerjaan rumah putrinya sebelum ia berangkat ke sekolah, di Seoul, Korea Selatan. Korea telah menghabiskan dana setara ekonomi Eropa kecil demi memperbaiki krisis demografinya dalam 10 tahun terakhir, namun angka kelahiran turun ke level terendah di dunia. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Pada akhir tahun lalu, Korea Selatan mengumumkan rencana untuk menghapus beberapa disinsentif untuk mempekerjakan perempuan dan memungkinkan kedua orang tua memperoleh cuti di waktu yang sama, bahkan ayah bisa memperpanjang masa cuti namun tetap digaji. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Bom waktu demografi Korea Selatan terus berdetak semakin kencang. Pemerintah memperkirakan populasi akan menurun pada tahun 2027, dan komite kepresidenan mengatakan potensi pertumbuhan ekonomi negara itu juga dapat menurun hingga di bawah 1%. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Seak 2006, tingkat kelahiran telah menjadi prioritas kebijakan. Pemerintah telah membelanjakan 152,9 triliun won (Rp 1.941 triliun) untuk tunjangan keluarga dan subsidi bagi anak-anak sejak lahir hingga universitas dan seterusnya. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Tetapi para ahli demografi mengatakan uang bukanlah masalah utama. Pengalaman negara-negara maju dengan tingkat kelahiran yang lebih tinggi, seperti Prancis atau Swedia, menunjukkan kesetaraan gender memainkan peran penting. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Banyak program seperti itu akan berakhir, dengan anggaran dukungan kelahiran 2019 dikurangi seperempatnya menjadi 20,5 triliun won. (REUTERS/Kim Hong-Ji)