Lebih dari 1 juta orang datang ke Jerman sebagai imigran sejak tahun 2015 di bawah kebijakan Kanselir Angela Merkel.
Imigran Afghanistan Ali Mohammad Rezaie berpose diatas sepeda motor bersama teman-teman Jermannya, Chris dan Jochen di Berlin, Jerman. Rezaie tidak merayakan ulang tahunnya karena orang tuanya tidak pernah mencatat tanggal kelahirannya. Namun dia tahu persis ketika dia tiba di Berlin untuk mencari suaka (15/10/2015).
"Ini bukan hari yang istimewa. Saya lelah dan telah berada di jalan selama dua bulan," katanya. Sejak itu dia bernyanyi dalam paduan suara dan melakukan pekerjaan sementara di sebuah panti jompo, sebuah toko roti, hotel dan restoran yang jauh dari desa kelahirannya 26 tahun yang lalu. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Lebih dari 1 juta orang datang ke Jerman sebagai imigran sejak tahun 2015 di bawah kebijakan Kanselir Angela Merkel. Sejak itu, imigrasi telah membagi Eropa dan membantu mendorong munculnya partai-partai sayap kanan. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Tetapi status imigrasinya mencegahnya mengambil langkah lebih lanjut. Permohonan suaka ditolak dan dia hanya bisa tinggal sebagai 'orang yang ditoleransi', yang berarti dia tidak akan dideportasi tetapi tidak memiliki status aman. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Bagi sebagian imigran, pindah ke Jerman berarti kebebasan baru. Pada saat yang sama, beberapa serangan militan oleh para migran bagi beberapa politisi menyatakan itu merupakan ancaman terhadap masyarakat Jerman. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Haidar Darwish sedang menari di Schwuz, salah satu klub gay tertua di Berlin, saat tahun lalu ketika mahasiswa Israel dan waria Judy La Divana mendekati dia dan memintanya untuk tampil di acaranya. Dia tidak pernah menari di atas panggung di tanah airnya Suriah, tetapi La Divana meyakinkannya untuk mencoba. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Untuk menambah penghasilan ini, dia bekerja di Brunos, sebuah toko fashion dan erotis yang menargetkan pria gay. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Kebebasan seksual bukanlah alasan utama dia meninggalkan Suriah pada tahun 2016 saat negaranya sedang berperang. "Sekarang, banyak orang bertanya kepada saya kapan dan di mana pertunjukan saya berlangsung sehingga mereka bisa datang. Bukan untuk menyombongkan diri," katanya. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Beda dengan Haidar Darwish, Joseph Saliba saat berusia sembilan tahun ketika ayahnya mengirimnya bekerja untuk seorang teman di Damaskus yang bekerja sebagai pengrajin kayu dan mosaik. Bisnisnya berkembang pesat ketika perang pecah pada tahun 2011. Ia memutuskan untuk melarikan diri ke Eropa tiga tahun lalu. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Dia menawarkan diri untuk menjadi relawan dalam pekerjaan restorasi di gereja menggunakan alat yang dia buat sendiri. Setahun kemudian, gereja menawarinya pekerjaan yang dibayar. Namun, pihak berwenang menolak memberinya dokumen perjalanan pengungsi dan merujuknya ke kedutaan Suriah di Berlin. (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Saliba mengatakan dia tidak ingin memasuki kedutaan dari pemerintah tempat dia melarikan diri dan dia menuntut pemerintah Jerman agar ia mendapatkan paspor pengungsi. (REUTERS/Fabrizio Bensch)